Tsunami Selat Sunda, Sektor Pariwisata Rugi Hingga Ratusan Miliar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berada di depan bangunan yang terdampak bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Ahad, 23 Desember 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan setidaknya 222 orang meninggal, 500 lebih orang terluka dan puluhan lainnya dinyatakan hilang. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Warga berada di depan bangunan yang terdampak bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Ahad, 23 Desember 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan setidaknya 222 orang meninggal, 500 lebih orang terluka dan puluhan lainnya dinyatakan hilang. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, JakartaTsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu pekan lalu merusak fasilitas wisata, terutama di wilayah Anyer dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, Banten. Kerugian sektor pariwisata itu ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.

    Baca: Usai Tsunami Selat Sunda, Okupansi Hotel di Anyer Turun 10 Persen

    Ketua Harian Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten, Ashok Kumar, mengatakan ada 20 hotel yang rusak dengan taksiran kerugian sementara Rp 5 miliar. Taksiran kerugian tersebut belum memasukkan kerusakan sarana wisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung yang mencapai Rp 150 miliar. “Perhitungan kerugian masih berjalan,” ujar dia ketika dihubungi Tempo, Selasa, 25 Desember 2018.

    Selain kerugian fisik, Ashok mengatakan, bencana tersebut menyebabkan efek domino berupa pembatalan kunjungan wisatawan hingga 10 persen. Sebelum dilanda tsunami, tingkat hunian atau okupansi hotel dan penginapan di kawasan wisata Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung mencapai 80–90 persen. “Sejauh ini, bentuk pembatalannya baru pergantian jadwal kunjungan,” katanya.

    PHRI menargetkan perbaikan hotel dan sarana pariwisata lainnya rampung dalam beberapa pekan ke depan. Menurut Ashok, kebanyakan dari fasilitas itu mengalami kerusakan ringan seperti pintu dan atap hancur. Meski ada pembatalan kunjungan wisatawan, dia meyakini pengusaha tidak akan mengalami gangguan arus kas.

    Direktur Utama PT Jababeka Group, Tbk, Setyono Djuandi Darmono, mengatakan dana yang dibutuhkan untuk membangun kembali hotel yang rusak di KEK Tanjung Lesung mencapai Rp 150 miliar. “Kami sudah mengasuransikannya,” kata dia.

    Menurut Setyono, dari keseluruhan KEK Tanjung Lesung seluas 1.500 hektare, hanya 2 hektare yang mengalami kerusakan, yaitu Klaster Tanjung Lesung Beach Resort. Adapun bagian lain seperti Blue Fish, Lada Bay Village, dan landasan pesawat tidak terkena dampak tsunami.

    Setyono menambahkan, butuh waktu enam bulan untuk memulihkan kembali KEK Tanjung Lesung. Pengelola kawasan akan terus meyakinkan investor untuk berinvestasi di sana.

    Adapun Direktur Utama PT Banten West Java, Poernomo Siswoprasetijo, memprediksi pada 1 Januari 2019 kawasan wisata tersebut bisa dibuka kembali. Dia mengklaim hingga saat ini belum ada calon wisatawan yang membatalkan penyewaan hotel. “Mungkin karena sama-sama tahu ini sedang bencana,” ujar dia.

    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono mengatakan sampai saat ini belum menemukan infrastruktur yang mengalami kerusakan parah, seperti yang terjadi saat bencana gempa di Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. “Yang mengganggu hanya sampah dan puing-puing bangunan yang terseret ombak,” kata dia.

    PT PLN (Persero) pun mulai memperbaiki fasilitas listrik di kawasan yang terkena dampak bencana. Executive Vice President Corporate Communication PLN, I Made Suprateka, mengatakan tim pelayanan teknik sudah memperbaiki 207 gardu listrik di Lampung dan Banten. Hingga kemarin, aliran listrik ke wilayah yang terkena dampak tsunami di Banten dan Lampung Selatan telah mencapai 90 persen. “Yang belum beroperasi normal sekitar 68 gardu,” ujar dia.

    Baca: Jababeka Rugi Rp 150 Miliar Akibat Tsunami Selat Sunda

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat untuk berhati-hati jika ingin beraktivitas di Pantai Carita. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan potensi tsunami yang terjadi seperti tsunami Selat Sunda susulan masih ada lantaran erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi. “Potensi terjadinya longsoran bawah laut masih ada,” ujar dia.

    CHITRA PARAMAESTI | KARTIKA ANGGRAENI | SYAFIUL HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.