Rabu, 19 Desember 2018

Kontroversi Pidato Berbau Politik Rizieq Shihab di Reuni 212

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 memadati ruas jalan MH Thamrin saat acara Reuni Akbar 212 di halaman Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    Ribuan massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 memadati ruas jalan MH Thamrin saat acara Reuni Akbar 212 di halaman Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, JakartaImam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab sampai mengulang-ulang salah satu pesan yang ditujukan kepada massa Reuni 212 di Monas pada Ahad, 2 Desember 2018. “Ingat semuanya sudah saatnya 2019 ganti presiden,” kata Rizieq melalui sambungan telepon yang disiarkan lewat pengeras suara.

    Simak: Rizieq Shihab: Haram Pilih Presiden dari Partai Penista Agama

    Tidak berhenti di situ, bahkan ia menegaskan peserta aksi untuk tidak memilih Presiden, yang oleh Rizieq disebut diusung oleh partai penista agama. “Haram memilih calon presiden dan calon legislatif yang diusung oleh partai pendukung penista agama,” kata Rizieq. Pentolan FPI yang kini berada di Mekkah ini bahkan menekankan kata haram sampai tiga kali.

    Tidak berhenti sampai di situ, Rizieq pun menyinggung calon presiden yang wajib dipilih oleh peserta Reuni 212. Rizieq Shihab mengatakan peserta harus memilih calon presiden yang merupakan hasil Ijtima Ulama. Ia memang tidak menyebut nama, namun jika merujuk pada Ijtima Ulama maka calon yang dimaksud adalah Prabowo Subianto yang kali ini berpasangan dengan Sandiaga Uno.

    Nama Prabowo pertama kali muncul dalam Ijtima Ulama yang digelar oleh Rizieq Cs pada Juli 2018. Dalam pertemuan yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa itu, muncul dua nama calon presiden plus pasangannya.

    Pertama adalah Prabowo Subianto dengan penceramah Abdul Somad. Lalu, pasangan lainnya adalah Ketua Umum Gerindra itu dengan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufri. Belakangan Abdul Somad menolak sehingga nama Salim Segaf menguat.

    Dalam perjalanannya, Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai pasangannya. Ijtima Ulama pun berembuk dan memutuskan bakal mendukung pasangan ini. Mereka menerbitkan rekomendasi pada September 2018 yang berbunyi:

    Simak: Kepada Massa Reuni 212, Rizieq Shihab: 2019 Ganti Presiden

    "Menetapkan Letnan Jenderal Haji Prabowo Subianto sebagai calon presiden pemilihan presiden tahun 2019 dan Haji Sandiaga Salahuddin Uno sebagai calon wakil presiden tahun 2019," bunyi pakta integritas dalam poin pertama dan kedua yang diatur Surat Keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional II nomor 01/IJTIMA/GNPF-ULAMA/MUHARRAM/1440 H tentang penetapan Presiden dan Calon Wakil Presiden.

    Baca kelanjutannya: Bagaimana reaksi kubu Jokowi atas pidato Rizieq Shihab


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.