Rabu, 19 Desember 2018

Lion Air Jatuh, KNKT Gandeng Boeing Lanjutkan Investigasi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga korban melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Keluarga korban melakukan doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melanjutkan investigasi pasca-merilis laporan awal (preliminary reports) tentang jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Tanjung Karawang pada akhir bulan lalu. Tim investigasi KNKT akan berangkat ke Amerika Serikat pemeriksaan bersama National Transportation Safety Board (NTSB) dan Boeing.

    Baca: Lion Air Diminta Jalankan 2 Rekomendasi KNKT, Kemenhub Akan Awasi

    Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan akan ada pembahasan terhadap masalah teknis dan operasi hingga 18 Desember mendatang. "Kami akan evaluasi," kata Nurcahyo di kantor KNKT, Rabu, 28 November 2018.

    Pembahasan lanjutan juga akan diikuti Biro Investigasi Keselamatan Transportasi (TSIB) Singapura dan Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) yang memberikan bantuan selama proses investigasi awal. Laporan awal investigasi KNKT yang dirilis kemarin mengungkapkan setidaknya enam masalah teknis pada indikator kecepatan (airspeed) dan ketinggian (altitude) di kendali kiri pesawat. Masalah serupa ditemukan pada empat penerbangan PK-LQP sebelum musibah terjadi.

    Data log pesawat mencatat adanya upaya perbaikan, termasuk penggantian sensor angle of attack (AoA) pesawat jenis Boeing 737 Max 8 tersebut di Denpasar. Namun masalah tetap timbul pada penerbangan Denpasar-Jakarta, sehari sebelum kejadian.

    Pilot mengalami masalah dengan indikator kecepatan terbang dan juga mengalami penurunan hidung otomatis (nose down). Selain itu, digital flight data recorder (DFDR) mencatat setang kemudi pilot yang terus bergetar (stick shaker) sesaat sebelum lepas landas dan berlangsung selama penerbangan.

    Masalah ini kembali muncul dalam penerbangan Jakarta-Pangkalpinang. Pilot asal India, Bhayve Suneja, kebingungan dengan masalah yang sama karena data AoA yang salah. "Seperti pada penerbangan sebelumnya, pesawat mengalami penurunan hidung otomatis," ujar Nurcahyo.

    Data DFDR yang ditemukan empat hari setelah pesawat jatuh mencatat adanya perbedaan antara AoA kiri dan kanan sekitar 20 derajat. Kapten Bhayve kemudian berusaha mengangkat moncong pesawat dengan menarik kendali di sayap utama (flap).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.