Rabu, 19 Desember 2018

Tensi Perang Dagang Meningkat, Cina Genjot Investasi di RI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat salah satu stan pembangunan jalan tol di pameran Indonesia Infrastruktur Week (IIW) 2018, Kemayoran, Jakarta, 1 November 2018. IIW 2018 mengadopsi konsep Show Within a Show dengan membawa enam pameran dagang vertikal dalam ruang lingkup sektor infrastruktur, yaitu InfraEnergy Indonesia, InfraPorts Indonesia, InfraSecurity Indonesia, InfraRail Indonesia, InfraWater Indonesia, dan Special Economic & Industrial Zones (SEIZ). TEMPO/Muhammad HIdayat

    Pengunjung melihat salah satu stan pembangunan jalan tol di pameran Indonesia Infrastruktur Week (IIW) 2018, Kemayoran, Jakarta, 1 November 2018. IIW 2018 mengadopsi konsep Show Within a Show dengan membawa enam pameran dagang vertikal dalam ruang lingkup sektor infrastruktur, yaitu InfraEnergy Indonesia, InfraPorts Indonesia, InfraSecurity Indonesia, InfraRail Indonesia, InfraWater Indonesia, dan Special Economic & Industrial Zones (SEIZ). TEMPO/Muhammad HIdayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Profesor keuangan dari Renmin University of China, Wang Wen, memperkirakan tren peningkatan investasi Cina ke Indonesia bakal berlanjut dan membesar. Dengan konsumsi yang berkontribuasi sebesar 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, Indonesia merupakan pasar menggiurkan. Pada saat yang sama, peluang ekspor Indonesia ke Cina—tahun lalu mencapai US$ 23 miliar—bakal meningkat.

    Baca: Cerita Jokowi soal Upaya RI Jembatani Perang Dagang AS-Cina

    Wen tak menampik bahwa geliat investasi Cina ke Indonesia merupakan bagian dari cara mencari pasar baru akibat imbas perang dagang dengan Amerika Serikat. “Tapi terus terang, kami di Cina tak sepanik itu. Kami cuma sebut berkonflik dengan satu negara tanpa harus melibatkan negara lainnya,” kata Wen dalam peringatan lima tahun kerja sama bilateral di Jakarta, Selasa, 27 November 2018.

    Berbagai sentimen seperti perang dagang membuat laju perekonomian Cina terus melambat. Dampak serupa dialami perekonomian global. Biro Statistik Nasional Cina melansir pertumbuhan ekonomi negeri tersebut hanya 6,5 persen—level terendah sejak krisis keuangan global 2008–2009. Tak hanya dipicu faktor eksternal, merosotnya laju perekonomian Cina disebabkan permintaan domestik yang loyo.

    Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xiao Qian, memastikan negaranya akan terus menambah investasi di Indonesia. “Modal investasi kami di Indonesia meningkat hingga US$ 3,36 miliar,” kata Qian.

    Qian mengatakan Indonesia merupakan partner strategis bagi Cina. Kedua kepala negara, Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Presiden Xi Jinping, telah tujuh kali berbalas kunjungan dan berbincang di berbagai kesempatan. Belum lama ini keduanya bersepakat memperpanjang perjanjian pertukaran pokok serta suku bunga rupiah dan renminbi sebesar US$ 200 miliar untuk menjamin kemudahan investasi dan perdagangan kedua negara.

    Melansir data Badan Koordinasi Penanaman Modal, nilai realisasi foreign direct investment (FDI) Cina ke Indonesia memang terus bertumbuh. Pada 2015, investasi Cina hanya senilai US$ 600 juta. Nilai tersebut melonjak hingga lebih dari lima kali lipat pada tahun lalu yang mencapai US$ 3,36 miliar—atau setara Rp 48,7 triliun dengan kurs 14.504 per dolar AS. Penanaman modal tersebut meliputi 2.668 proyek.

    Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah sangat terbuka terhadap investasi Cina. Pemerintah, kata dia, terus memperbaiki kemudahan berinvestasi seperti penerapan sistem perizinan online terpadu online single submission (OSS). “Tapi tak hanya investasi, negara (Indonesia) juga ingin nilai tambah seperti kewajiban transfer teknologi dan ilmu,” ujar Luhut

    Luhut mengatakan Cina memang selalu menjadi salah satu rujukan pendanaan pembangunan. April lalu, dia secara khusus menjadi utusan negara untuk menawarkan 15 proyek ke Cina. Promosi investasi juga dilakukan ke sejumlah negara lainnya. “Cina memang penting, tapi bukan berarti kami mengandalkan dari satu negara saja,” ujar dia.

    Baca: Selain Investasi, Luhut Ingin Cina Transfer Teknologi ke Indonesia

    Presiden Joko Widodo mengatakan tensi tinggi antara Cina dan Amerika Serikat bisa dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan kapasitas perekonomian negara. Tak hanya pendekatan ke Cina, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri juga intens membuka jalur produk Indonesia untuk menggantikan produk Cina yang didaftarhitamkan. “Sulit untuk menjembatani kedua negara tersebut, sikap Indonesia berada di tengah-tengah,” kata Jokowi.

    DIAS PRASONGKO | HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.