Sebab Cekcok Beda Capres Berujung Maut: Rakyat Hanya Alat Politik

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, bergandengan dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan capres dan cawapres hingga para pejabat hadir mengenakan pakaian adat dalam acara yang bertema

    Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, bergandengan dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan capres dan cawapres hingga para pejabat hadir mengenakan pakaian adat dalam acara yang bertema "Kampanye Anti-Politisisasi SARA, Hoax, dan Politik Uang" tersebut. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman berpendapat pertikaian pendukung calon presiden yang berujung maut merupakan salah satu dampak dari iklim politik yang ditampilkan oleh politikus, yang saling tuding. Tidak damai.

    Simak: Pengamat Nilai Konsep Visi Misi Kandidat Capres Belum Matang

    "Diantaranya cara berpolitik politikus kita yang masih sering tuding, sering menjatuhkan, saling berdebat yang tidak sehat. Hingga terbawa dan ditiru oleh masyarakat yang edukasi politiknya masih rendah," kata Sunyoto saat dihubungi, Senin 26 November 2018.

    Kondisi tersebut kata Sunyoto akan menggiring opini masyakarat jika Pilpres 2019 merupakan sebuah pertarung yang begitu besar, yang harus dimenangkan. Bahkan lanjut dia, hal ini juga berpotensi memunculkan asumsi untuk pertarung fisik.

    Menurut Sunyoto, masyarakat yang hanya dijadikan alat politik bukan peserta pemilu memicu pergerakan ke tindakan yang irrasional, seperti rasa benar sendiri. Hal ini, kata dia, akan berlanjut ke aspek emosional, para pendukung tersebut nantinya akan mudah membenci..

    Sunyoto mengatakan kondisi ini yang memungkinkan orang nekat untuk mengambil tindakan anarkis atau mengeluarkan ancaman membunuh. Sunyoto menilai, pihak yang terlibat dalam kontestasi politik seharusnya memposisikan masyarakat sebagai partisipan dalam politik, agar dukungan yang diberikan pun muncul lantaran kesepakatan gagasan.

    "Sekarang banyak masyarakat yang edukasi politiknya masih rendah memberikan dukungan karena faktor kedekatan, faktor uang hingga mudah untuk dimobilisasi," kata dia.

    Taufiq Siddiq, Budiarti Utami Putri, Fransisca Christy Romana

    Simak berita seputar Pilpres 2019 di kanal Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.