Rabu, 19 Desember 2018

Hubungan Pakistan dan Amerika Merenggang, Ada Apa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Taliban membawa senjata sembari mengendarai sepeda motor di Nangarhar untuk merayakan gencatan senjata di timur Kabul, Afganistan, Sabtu, 16 Juni 2018. REUTERS

    Anggota Taliban membawa senjata sembari mengendarai sepeda motor di Nangarhar untuk merayakan gencatan senjata di timur Kabul, Afganistan, Sabtu, 16 Juni 2018. REUTERS

    TEMPO.COIslamabad – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengkritik secara terbuka Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait pernyataannya bahwa Pakistan tidak melakukan apapun untuk kepentingan AS.

    Baca:

     

    Trump mengatakan ini dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News, yang dikenal sebagai salah satu media pendukungnya. Trump mengatakan pemerintah Pakistan tidak melakukan apapun bagi AS meskipun mendapat bantuan dana sekitar US$1.3 miliar atau sekitar Rp19 triliun per tahun.

    “Dari pada menunjuk Pakistan sebagai kambing hitam atas kegagalan mereka, AS perlu melakukan pengecekan mengapa meskipun ada 140 ribu tentara NATO plus 250 ribu pasukan Afghanistan dan menghabiskan biaya US$1 triliun (sekitar Rp14.600 triliun) untuk perang Afghanistan, Taliban sekarang menjadi lebih kuat dari sebelumnya,” kata Khan lewat cuitan di akun @ImranKhanPTI pada Senin, 19 November 2018.

    Baca:

     

    Khan, yang baru saja terpilih menjadi PM Pakistan, juga mengatakan negaranya mengalami kehancuran ekonomi, banyak korban jiwa dan gangguan keamanan karena mengikuti AS dalam perang melawan teror.

    “Pernyataan keliru Trump menambah penghinaan terhadap luka yang dialami Pakistan dalam perang melawan teror karena banyak korban tewas, gangguan keamanan, dan kerugian ekonomi.”

    Khan, yang dikenal kerap mengkritik AS secara terbuka, menambahkan,”Pakistan telah menderita akibat perang AS. Sekarang kami akan melakukan apa yang terbaik bagi rakyat dan kepentingan kami.”

    Seperti dilansir Reuters, Khan, yang pernah menjadi atlet kriket, mengatakan tidak ada warga negara Pakistan yang terlibat dalam insiden 11 September tapi negaranya mau ikut dalam perang melawan teror.

    Baca:

     

    “Pakistan menderita 75 ribu korban jiwa dalam perang ini dan kerugian ekonomi sekitar US$123 miliar (sekitar Rp1.800 triliun). Bantuan AS itu jumlahnya kecil hanya sekitar US$20 miliar (sekitar Rp300 triliun)," kata dia. 

    Menurut Trump dalam wawancara dengan Fox News pada akhir pekan lalu, AS telah menghentikan bantuan dana tadi. Dia juga mengindikasikan otoritas Pakistan sepertinya tahu dimana Osama Bin Laden bersembunyi sebelum disergap pasukan AS pada 211.

    Pernyataan Trump ini juga ditujukan kepada petinggi pensiunan NAVY Seal AS, Laksamana Bill McRaven, yang merupakan tokoh dibalik penyerbuan terhadap Osama Bin Laden. Trump mengatakan ini setelah McRaven mengkritik serangan Trump terhadap media massa sebagai ancaman terbesar demokrasi AS saat ini.

    Baca:

     

    Pemerintah Pakistan juga menolak tudingan AS bahwa negara yang berbatasan dengan Afghanistan ini mendukung gerilyawan Taliban melawan pasukan dukungan AS.

    Hubungan kedua negara, seperti dilansir Economic Times, menjadi semakin renggang pasca kunjungan Menteri Luar Negeri Pakistan, Khawaja Asif, ke Washington selama tiga hari pada Juli 2018. Saat itu, Asif bertemu dengan Melu AS, Rex Tillerson, yang belakangan digantikan Mike Pompeo karena ada ketidakcocokan dengan Trump.

    Menurut Moeed Yusuf, seorang ahli senior mengenai hubungan Pakistan dan AS di Institute of Peace, kedua negara mengalami kondisi saling tidak percaya. “Kesan yang saya tangkap adalah hubungan ini mengalami masalah serius,” kata Yusuf seperti dilansir Economic Times pada 12 Juli 2018.

    Menurut Yusuf, rasa saling tidak percaya itu sangat mendalam dan menyulitkan hubungan kedua negara. “Posisi kedua negara adalah masing-masing merasa skeptis mengenai niat baik satu sama lain,” kata Yusuf.

    Menurut dia, pejabat AS meminta pemerintah Pakistan untuk bertindak lebih banyak karena wilayah perbatasannya menjadi tempat perlindungan Taliban. Sebaliknya, pejabat Pakistan melihat negaranya dijadikan kambing hitam oleh AS atas masalah yang sebenarnya terjadi di Afghanistan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.