BNPB Kaji Perpanjangan Tanggap Darurat Terdampak Gempa Palu

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang korban gempa mengumpulkan material dari reruntuhan bangunan untuk membangun penampungan sementara di Desa Lende Tovea, Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu, 6 Oktober 2018. REUTERS/Beawiharta

    Seorang korban gempa mengumpulkan material dari reruntuhan bangunan untuk membangun penampungan sementara di Desa Lende Tovea, Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu, 6 Oktober 2018. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanganan Bencana atau BNPB tengah menimbang untuk memperpanjang masa tanggap darurat di kawasan terdampak gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah. Masa tanggap darurat diberlakukan di kawasan terdampak selama 14 hari, sejak 28 September hingga 11 Oktober 2018. BNPB menduga masih banyak korban tewas tertimpa reruntuhan akibat gempa Palu yang belum ditemukan.

    “Itu masih tentatif,” kata Kepala Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2018. Menurut prosedur, masa pencarian biasanya berlangsung selama tujuh hari pascabencana. Namun, bila diperlukan, masa pencarian akan diperpanjang hingga 10-14 hari setelahnya.

    Baca: Pemerintah Terima Bantuan Asing Rp 220 Miliar untuk Gempa Palu

    Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong pada Jumat, 28 September 2018. Gempa disusul terjangan tsunami. Menurut data BNPB, hingga Sabtu, 6 Oktober 2018, bencana itu menewaskan 1.649 orang, melukai 2.549 orang, dan 265 orang dinyatakan hilang.

    Setelah delapan hari sejak tsunami dan gempa, masyarakat Kota Palu mulai beraktivitas. Di tengah berlangsungnya proses evakuasi, sejumlah pasar dan angkutan darat mulai beroperasi. Sejumlah kawasan juga telah mendapat aliran listrik kembali.

    Baca: Pengungsi Gempa dan Tsunami Palu ...

    Pasar terdampak gempa Palu yang sudah mulai beroperasi di antaranya Pasar Manonda di Jalan Kacang Panjang, Palu Tengah, dan Pasar Mombasa. Sejumlah maskapai bus dan mobil angkutan antarkota mulai beroperasi dengan rute terjauh menuju Kota Manado, Sulawesi Utara.

    Agen bus dan perjalanan Medi Suka Laksana (MSL) telah membuka layanan angkutan orang dan barang menuju Poso, Morowali, Ampana, dan Manado sejak Jumat, 5 Oktober 2018. Selama tiga hari beroperasi, MSL telah mengangkut 3.972 orang penumpang tanpa dipungut biaya. “Akan terus gratis sampai Kota Palu kembali normal,” kata Manajer MSL Kota Palu Sodiq di kantornya, Palu, Ahad, 7 Oktober 2018.

    Simak: Gempa Donggala dan Tsunami Palu, Jepang ...

    Seorang sopir angkutan umum, Bustoni, mengatakan mulai mengangkut penumpang menuju Kabupaten Poso tiga hari lalu. Kebanyakan penumpangnya adalah korban gempa dan tsunami Palu yang akan mengungsi ke rumah kerabatnya di luar Kota Palu.

    Bustoni mengatakan orang yang mau menumpang kendaraannya cukup membayar iuran untuk beli bensin. “Yang penting patungan bahan bakar saja, lagi musibah,” ujar pria 45 tahun ini.

    Simak juga: Terkini: Pasca Gempa Donggala, Kota Palu Bak ...

    Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Donggala. Pengungsi di tujuh desa di Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, masih terisolasi dan mulai kehabisan makanan. Tujuh desa itu adalah Desa Kamonji, Malei, Ketong, Rano, Manimbaya, Palau, dan Pomolulu.

    Seorang warga Desa Kamonji, Harjon, mengatakan, selama sepekan, pengungsi korban gempa Palu di desanya hanya makan seadanya. Dia menuturkan bantuan logistik tak pernah sampai ke desanya. Pengungsi pun kelaparan. “Tidak ada lagi makanan di pengungsian. Mau ke Palu, kami tak punya bahan bakar,” ucap pria 37 tahun ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.