Setelah Tsunami Palu: Kehilangan 12 Keluarga sampai Penjarahan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. ANTARA/BNPB Sutopo Purwo Nugroho

    Pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. ANTARA/BNPB Sutopo Purwo Nugroho

    Hingga Sabtu malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah ada 410 korban meninggal. Selain itu, 500 orang diperkirakan luka-luka akibat gempa dan tsunami Palu. Terdapat banyak bangunan seperti rumah, kantor, dan fasilitas umum rusak.

    Baca: Tsunami Palu, Warga Keluhkan Kurangnya Air dan Makanan

    Selain itu, BNPB memperkirakan 16.732 jiwa sudah mengungsi di 124 titik di Palu. Data ini belum termasuk korban di daerah lain seperti di Kabupaten Donggala yang menjadi pusat gempa berkekuatan 7,4 SR. "Ini baru di Palu, diperkirakan jumlah pengungsi 16.732 jiwa," kata Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho saat ditemui dikantornya, Sabtu 29 September 2018.

    Permasalahan yang sekarang mendesak adalah, pemerintah sedang memikirkan bagaimana mengirimkan bantuan agar bisa cepat sampai ke para pengungsi. Sebab, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penyaluran bantuan untuk korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, terkendala oleh minimnya infrastruktur. Gempa berkekuatan 7,4 skala richter ini membuat banyak akses jalan rusak.

    "Ya banyak kerusakan di sana sini. Kalau cepat kami juga maunya cepat," kata Agus kepada awak media di Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Sabtu, 28 September 2018. Pemerintah sedang mengupayakan pengiriman bantuan dari kota-kota terdekat seperti Makassar.

    Sementara itu, pengungsi gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, mulai mengeluhkan kurangnya kebutuhan pokok seperti air minum dan makanan. Akibat distribusi bantuan yang belum merata, sejumlah masyarakat malahan menjarah minimarket.

    Menurut pantauan, warga terlihat menjarah minimarket Alfamidi di kawasan Jalan Veteran. Warga bergerombol membuka pintu Alfamidi dan mengambil barang-barang. "Ambil makanan, makanan bayi-bayi," kata salah seorang penduduk yang turut mengambil barang, Sabtu, 28 September 2018.

    Setidaknya ada empat lima market yang jadi lokasi penjarahan warga. Antara lain Alfamidi di Jalan Veteran, Jalan Yos Soedarso, Jalan Abdurrahman Saleh. Selain itu, ada pula minimarket warga yang juga dijarah di Jalan Yos Soedarso.

    Selain menjarah kebutuhan pokok, masyarakat juga menjarah beberapa SPBU di Palu. Warga menjarah SPBU untuk mendapatkan bahan bakar yang akan digunakan untuk kendaraan.

    Baca: Pasca Tsunami Palu, Penduduk Jarah Minimarket

    Beberapa SPBU yang dijarah warga berada di dua titik yakni pertama di Jalan M. Yamin sekitar 500 meter dari rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tengah. SPBU kedua terletak di Jalan R.A Kartini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.