Rabu, 24 Oktober 2018

Setelah Tsunami Palu: Kehilangan 12 Keluarga sampai Penjarahan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. ANTARA/BNPB Sutopo Purwo Nugroho

    Pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 September 2018. Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan. ANTARA/BNPB Sutopo Purwo Nugroho

    TEMPO.CO, Palu - Dengan sepeda motor bebeknya, Fandy menyusuri bibir pantai Talise di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Sabtu, 29 September 2018. Sesekali ia menghentikan sepeda motornya dan membongkar timbunan puing. "Saya sedang mencari keluarga yang hilang akibat gempa dan tsunami Palu," kata Fandy sore itu.

    Baca: Tsunami Palu, BNPB Temukan Banyak Korban di Pantai

    Kondisi bibir pantai Talise dipenuhi puing-puing akibat gempa dan tsunami Palu yang menghantam daerah itu pada Jumat (28/9). Sore itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat ada gempa sebesar 7,4 SR yang menghantam Donggala. Akiba lindu ini, tsunami menghantam pinggiran kota Palu.

    Fandy mengatakan ada 12 orang keluarganya yang menjadi korban sapuan gelombang tsunami Palu. Mulai dari orang tuanya hingga kerabatnya. "Ada mace, sepupu, orang tua lima, kakak adiknya bapak juga," kata dia. Ceritanya,

    Pria yang merupakan tukang parkir di Pantai Talise ini bercerita Jumat sore itu, sedang ada festival Pesona Palu Lomoni yang membuat warga berkunjung ke pantai tersebut. Menurut dia, sang ibu memanfaatkan perhelatan tersebut dengan berjualan pisang goreng. Makanya, satu keluarga berkumpul di sana sekaligus menikmati kemeriahaan acara.

    Baca juga: BNPB: Sebagian Besar Korban Tewas Akibat Tsunami Palu

    Fandy menuturkan, mulanya dia memang ada di lokasi sembari membuka jasa parkir. Namun, dia memutuskan harus pulang untuk mengurusi anaknya yang sedang berada di rumah. Ketika kembali ke lokasi, ia sudah melihat air menyapu daratan.

    Fandy menjelaskan dia baru bisa mencari keluarganya pada Sabtu pagi. Namun, tak satu pun keluarganya dapat ditemukan hingga sore tadi. "Ini titik terangnya belum ada. Tadi ada tetapi salah angkat ternyata," kata pria 22 tahun ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.