Rabu, 24 Oktober 2018

Rupiah Melemah Minyak Dunia Naik, Pertamina Pangkas Belanja Modal

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arief Budiman, Direktur Keuangan PT Pertamina (kanan), saat kunjungannya ke kantor Tempo di Palmerah, Jakarta, 24 Juli 2018. TEMPO/Fajar Januarta

    Arief Budiman, Direktur Keuangan PT Pertamina (kanan), saat kunjungannya ke kantor Tempo di Palmerah, Jakarta, 24 Juli 2018. TEMPO/Fajar Januarta

     
    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) memangkas rencana belanja modalnya tahun ini hingga sebesar US$ 4,8 miliar Rp 69 triliun. Jumlah itu turun Rp 17,3 triliun dari target sebelumnya Rp 86,7 triliun.
     
     
    Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, Gigih Prakoso, pemangkasan perlu dilakukan untuk mengurangi risiko keuangan. Dia mengklaim perusahaan hanya mencoret investasi yang belum mendesak. "Setelah kami review hanya 80 persen yang bisa dilaksanakan tahun ini. Proyek yang tak penting kami mundurkan," ujar Gigih kepada Tempo, Selasa 24 Juli 2018.
     
    Proyek yang dimaksud Gigih adalah rencana renovasi sejumlah kantor perusahaan. Selain itu, proyek yang tak berhubungan dengan aktivitas produksi maupun pemasaran minyak dan gas bumi, seperti pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan turut ditunda.
     
    Pertamina juga menunda anggaran proyek yang tak bisa diselesaikan tahun ini. Contohnya pembangunan tangki bahan bakar minyak di sejumlah wilayah di Indonesia Timur. Proyek ini adalah penugasan yang diberikan pemerintah sejak Mei tahun lalu.
     
    Gigih mengklaim korporasi tak menunda belanja modal untuk proyek strategis. Investasi di sektor hulu migas tahun ini juga tetap berjalan sesuai rencana. "Program-program besar kami tak batalkan seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Jawa 1 dan Jambaran Tiung Biru."
     
     Keuangan Pertamina tertekan sejak tahun lalu karena kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang melemah. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak yang naik dari rata-rata US$ 55 per barel tahun lalu menjadi US$ 70 per barel sepanjang semester I tahun ini. Alhasil, beban perusahaan tahun lalu naik ke US$ 38 miliar dibanding tahun 2016 sebesar US$ 30,2 miliar.
     
    Guna menghindari risiko keuangan yang lebih besar, pemerintah menambah subsidi bahan bakar minyak dan liquified petroleum gas hingga akhir tahun sebesar Rp 103,48 triliun. Angka tersebut melonjak dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 sebesar Rp 46,86 triliun. Pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani berpesan supaya Pertamina bisa bertahan dari tekanan makroekonomi melalui efisiensi dan perbaikan tata kelola. "Kami meminta Pertamina memperbaiki tata kelola, melakukan efisiensi, mengurangi kebocoran, bahkan korupsi. Sebab program penugasan kami tetap jalankan secara konsekuen," kata dia.  
     
    Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengemukakan perusahaan tetap menjalankan penghematan biaya operasi. Targetnya, tahun ini efisiensi perusaahaan bisa mencapai Rp 4 triliun. Angka ini diakui Arief sangat kecil ketimbang beban yang harus ditanggung perusahaan setiap tahun sekitar Rp 500 triliun. "Ini memang masih harus dibantu dengan hal-hal lain," tutur Arief. 
     
     
    Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai target efisiensi Pertamina tahun ini sangat kecil. Menurut dia, Pertamina belum menyentuh efisiensi di bidang pengadaan minyak yang selama ini menjadi celah pemburu rente. 
     
    Tanpa efisiensi besar-besaran, kata Fahmy, Pertamina akan terus berhadapan dengan potential loss. "Efisiensi harus digencarkan kalau tidak keuangan Pertamina semakin berbahaya," ungka dia.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.