Minggu, 22 Juli 2018

Alasan 3 Provinsi Ini Jadi Lumbung Suara dalam Pilkada 2018

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilih difabel tuna netra memegang kartu suara berhuruf <i>braille</i> dalam sosialisasi pilkada serentak di Malang, Jawa Timur, Senin, 25 Juni 2018. Sosialisasi tersebut dilakukan untuk memberikan informasi serta tata cara pencoblosan pada 1.539 pemilih difabel yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). ANTARA

    Pemilih difabel tuna netra memegang kartu suara berhuruf braille dalam sosialisasi pilkada serentak di Malang, Jawa Timur, Senin, 25 Juni 2018. Sosialisasi tersebut dilakukan untuk memberikan informasi serta tata cara pencoblosan pada 1.539 pemilih difabel yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta – Partai politik menjadikan sejumlah provinsi sebagai lumbung utama suara dalam pilkada 2018. Provinsi itu antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam pemilihan kepala daerah di sini, parpol menjadikan momentum untuk menguji efektivitas “mesin pemenangan” dalam menghadapi pemilihan presiden atau pilpres 2019.

    Salah satu Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menuturkan hasil pilkada serentak akan dijadikan pertimbangan partai ataupun calon presiden dalam menentukan koalisi. “Peta daerah yang dimenangi PDIP ataupun partai lain akan dibahas bersama partai-partai pendukung Joko Widodo (Jokowi),” katanya, Senin, 25 Juni 2018.

    Baca: SMRC dan Roda Tiga Konsultan Prediksi Kemenangan Khofifah-Emil

    Menurut Hendrawan, PDIP memberikan perhatian khusus terhadap pilkada kali ini. Partai tersebut mengincar kemenangan di banyak daerah, terutama wilayah lumbung suara, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ketiga provinsi tersebut memiliki sekitar 88,8 juta pemilih atau 47,6 persen dari 186,4 juta pemilih dalam pilpres 2019.

    Politikus Gerindra, Andre Rosiade, berpendapat serupa. Dia menyebutkan pilkada 2018 merupakan perhelatan politik terakhir yang menjadi ukuran dan bahan evaluasi menjelang pilpres 2019. “Setelah pilkada, kami akan tahu tingkat efektivitas mesin partai dan apa saja yang perlu diperbaiki untuk pilpres 2019,” ujarnya.

    Salah satu contoh pengujian efektivitas mesin partai, menurut Andre, bisa dilihat di pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di kedua provinsi itu, Gerindra mengusung figur yang awalnya kurang dikenal publik, Sudrajat, di Jawa Barat dan Sudirman Said di Jawa Tengah. Elektabilitas kedua calon tersebut di bawah calon inkumben. “Tapi kami percaya isu strategis yang kami pakai bisa menarik suara,” ucapnya.

    Pengukuran efektivitas mesin partai, Andre melanjutkan, juga dilakukan dengan menjalankan gerilya dari rumah ke rumah. Strategi ketuk pintu untuk meyakinkan pemilih bahkan terus dijalankan para saksi Gerindra menjelang hari pencoblosan, besok. “Ini juga salah satu metode mengukur mesin partai,” tuturnya.

    Atmosfer pilpres memanas sejak awal tahun lalu meskipun pemilihan baru berlangsung pada 17 April 2019. Partai-partai terbelah menjadi tiga kelompok. PDIP, Golkar, NasDem, Partai Persatuan Pembangunan, dan Hanura mengusung Presiden Jokowi. Sedangkan Gerindra mencalonkan ketua umumnya, Prabowo Subianto. Adapun Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menentukan sikap.

    Partai-partai pun terus menggodok peluang koalisi untuk mendaftarkan calon presiden dan wakil presiden pada 4-10 Agustus mendatang. Koalisi dibutuhkan karena tak ada partai yang lolos syarat pencalonan presiden, yakni memiliki 20 persen kursi di Dewan Perwakilan Rakyat atau 25 suara sah nasional.

    Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menuturkan koalisi yang terbentuk dalam pilkada juga bakal menentukan siapa yang diuntungkan dalam pilpres. CSIS mencatat Gerindra, PKS, dan PAN lebih banyak berkoalisi dalam pilkada ketimbang partai pendukung pemerintah. “Kalau koalisi itu menang akan mempengaruhi partai,” katanya.

    Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur disebut lumbung suara dalam pilkada 2018 karena secara nasional total pemilihnya 88,8 juta orang atau 47,6 persen dari calon pemilih dalam pemilihan umum 2019. Lembaga survei memetakan elektabilitas calon presiden 2019 berdasarkan pasangan calon kepala daerah yang dipilih.

    Jawa Barat

    SMRC (21 Mei-1 Juni 2018)

    Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum

    Jokowi                  : 51,7 persen

    Prabowo              : 39,7 persen

    Tidak menjawab: 8,6 persen

    Tb. Hasanudin-Anton Charliyan

    Jokowi                  : 75,6 persen

    Prabowo              : 17,1 persen

    Tidak menjawab: 7,3 persen

    Sudrajat-Ahmad Syaikhu

    Jokowi                  : 17,8 persen

    Prabowo              : 70,8 persen

    Tidak menjawab: 11,1 persen

    Deddy Mizwar-Dedy Mulyadi

    Jokowi                  : 51,9 persen

    Prabowo              : 37,7 persen

    Tidak menjawab: 10,4 persen

    Charta Politika (23-29 Mei)

    Joko Widodo      : 46,1 persen

    Prabowo              : 40,5 persen

    Tidak menjawab: 13,4 persen

    Indo Barometer (7-13 Juni)

    Jokowi                  : 33,6 persen

    Prabowo              : 22,8 persen

    Calon lain             : 3 persen

    Tidak menjawab: 40,6 persen

    Jawa Tengah

    SMRC (21 Mei-1 Juni)

    Ganjar Pranowo-Taj Yasin

    Jokowi                  : 80,3 persen

    Prabowo              : 13 persen

    Tidak menjawab: 6,6 persen

    Sudirman Said-Ida Fauziyah

    Jokowi                  : 61,6 persen

    Prabowo              : 31,4 persen

    Tidak menjawab: 7,0 persen

    Charta Politika (23-29 Mei)

    Jokowi                  : 67,3 persen

    Prabowo              : 11,2 persen

    Tidak menjawab: 21,5 persen

    Indo Barometer (7-13 Juni)

    Jokowi                  : 71 persen

    Prabowo              : 11,6 persen

    Calon lain             : 2,8 persen

    Tidak menjawab: 14,6 persen

    Jawa Timur

    SMRC (21 Mei-1 Juni)

    Khofifah Indar Parawangsa-Emil Dardak

    Jokowi                  : 60,9 persen

    Prabowo              : 30,2 persen

    Tidak menjawab: 9 persen

    Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno

    Jokowi                  : 62,3 persen

    Prabowo              : 27,1 persen

    Tidak menjawab: 10,5 persen

    Charta Politika (23-29 Mei)

    Jokowi                  : 53,4 persen

    Prabowo              : 33,6 persen

    Tidak menjawab: 12,9 persen

    Indo Barometer (29 Januari-4 Februari)

    Jokowi                  : 56,5 persen

    Prabowo              : 22 persen

    Calon lain             : 5,4 persen

    Tidak menjawab: 16,3 persen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.