Selasa, 22 Mei 2018

Selamatkan Rupiah, Desakan Agar BI Naikkan Suku Bunga Menguat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada 8 Mei 2018, nilai rupiah tersungkur ke 14 ribu per dolar Amerika Serikat meski Bank Indonesia menggelontorkan puluhan triliun rupiah cadangan devisa untuk mengintervensi pasar.

    Pada 8 Mei 2018, nilai rupiah tersungkur ke 14 ribu per dolar Amerika Serikat meski Bank Indonesia menggelontorkan puluhan triliun rupiah cadangan devisa untuk mengintervensi pasar.

    TEMPO.CO, Jakarta - Desakan agar Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga supaya kurs rupiah tak makin anjlok menguat. Salah satunya berasal dari Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono, yang menilai pasar akan makin grogi jika BI tak segera menaikkan suku bunga acuan.

    Adapun kenaikan suku bunga tersebut disebut banyak pihak sangat dibutuhkan di tengah pelemahan rupiah yang terus terjadi. "Menaikkan suku bunga ini harus segera dilakukan. Jika tidak, pasar akan semakin grogi. BI tak bisa terus-menerus mengandalkan cadangan devisa yang terus tergerus," ujar Tony dalam sebuah acara diskusi di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu, 9 Mei 2018.

    Baca: Ekonom Ini Sebutkan Perbedaan Kondisi Rupiah Sekarang dengan 1998

    Lebih jauh, Tony menilai Bank Indonesia tidak bisa terus-menerus mengandalkan cadangan devisa untuk menstabilkan pergerakan kurs rupiah tersebut. Sebab, penurunan cadangan devisa pada April terbilang cukup signifikan. Walaupun tidak ada yang bisa menjamin suku bunga serta-merta membuat rupiah menguat, kebijakan bunga dinilai bakal efektif mengurangi beban cadangan devisa.

    Hal senada disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara. BI diharapkan segera menaikkan suku bunga acuan lewat 7-Days Repo Rate sebesar 25-50 basis poin (bps).

    Hal ini bertujuan menaikkan return of assets (ROA) sehingga menahan capital outflow dana asing. Pengusaha yang memiliki utang luar negeri, Bhima melanjutkan, diharapkan melakukan perlindungan nilai atau hedging, dan BI perlu mengawasi aturan itu secara ketat.

    Bhima juga berharap Bank Indonesia tidak bisa hanya menyalahkan faktor global atas terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Karena sebagian besar yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah fundamental ekonomi. Maka tugas pemerintah juga untuk memperkuat kinerja ekonomi domestik," ujarnya di Jakarta, Kamis, 10 Mei 2018.

    Menurut Bhima, pemerintah harus menjaga daya beli dengan menciptakan stabilitas, baik harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, maupun harga pangan, terlebih menjelang Ramadan. Sehingga, kata dia, konsumsi rumah tangga, yang berperan 56 persen terhadap pendapatan domestik bruto (PDB), dapat terpulihkan.

    "Bansos (bantuan sosial) jangan terlambat disalurkan, efektifkan stimulus ke sektor riil, serta evaluasi semua paket kebijakan. Ini sebagai bentuk pemberian vitamin C atau confidence yang akhir-akhir ini kurang di pasar," ucapnya.

    Seperti diketahui sebelumnya, dalam beberapa hari terakhir, rupiah menunjukkan tren depresiatif, bahkan telah melewati level psikologis Rp 14 ribu per dolar Amerika. Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), yang diumumkan BI pada Rabu kemarin, menunjukkan satu dolar Amerika dihargai Rp 14.074. Adapun kurs rupiah dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 dipatok di level Rp 13.400 per dolar Amerika. 

    Sejak Januari hingga 8 Mei 2018, nilai tukar rupiah melemah 3,44 persen (year to date). Namun angka itu lebih baik dibanding peso Filipina yang melemah 3,72 persen, rupee India 4,76 persen, real Brasil 6,83 persen, rubel Rusia 8,93 persen, dan lira Turki 11,51 persen. 

    Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika telah membuat resah sejumlah industri di Indonesia yang masih mengandalkan bahan baku impor. Naiknya biaya bahan baku dikhawatirkan bakal dibebankan pengusaha kepada konsumen dalam negeri.

    Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, misalnya, mengatakan kalangan pengusaha di asosiasi yang dipimpinnya masih mengevaluasi harga jual ke konsumen dengan asumsi nilai tukar rupiah masih terpuruk hingga beberapa pekan ke depan. “Bisa dibilang kami kritis, jadi dilema antara harus menaikkan harga atau tidak menjelang puasa dan Lebaran,” tuturnya.

    Adhi menjelaskan, ketergantungan bahan baku impor pada industri makanan dan minuman mencapai 70-80 persen. Bahkan, pada industri berbasis bahan baku tepung terigu dan gula, kata Adhi, ketergantungannya hampir mencapai 100 persen.

    Dengan asumsi kurs semula Rp 13.600 per dolar Amerika dan telah terlampaui sejak awal Februari lalu, Adhi memperkirakan pengusaha makin tertekan belakangan ini. Pasalnya, melemahnya kurs dari asumsi awal ke posisi saat ini telah menyebabkan ongkos bahan baku melonjak 5 persen. 

    Kendati rupiah melemah, Adhi meyakini industri makanan dan minuman masih bisa menahan kenaikan harga pada bulan puasa lantaran terjaminnya stok bahan baku untuk sebulan. Ada juga stok produk jadi yang masa tahannya berkisar sepekan hingga satu bulan. “Tapi, kalau sampai usai Lebaran tetap begini, kami harus evaluasi harga,” ucapnya.

    DEWI NURITA | ADAM PRIREZA | YOHANNES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.