Minggu, 22 Juli 2018

Menanti Gebrakan Gatot Nurmantyo Setelah Pensiun

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gatot Nurmantyo. TEMPO/Ilham Fikri

    Gatot Nurmantyo. TEMPO/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, JakartaGatot Nurmantyo resmi pensiun dari dinas militer pada 1 April 2018. Berpangkat terakhir jenderal bintang empat, Gatot Nurmantyo disebut-sebut berpeluang maju sebagai calon presiden pada 2019 mendatang.

    Dalam beberapa survei, Gatot Nurmantyo yang mengakhiri karier militernya sebagai Panglima TNI itu muncul di antara dua nama petarung lama, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

    Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, mengatakan elektabilitas mantan Panglima TNI tersebut masih rendah dibanding Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

    Baca juga: Disebut Lebih Kaya dari Prabowo, Gatot Nurmantyo: Itu Doa

    Dalam survei Indo Barometer, nama Gatot muncul di bawah nama Jokowi dan Prabowo, dengan elektabilitas 2,4 persen. “Kalau melihat angka ini agak sulit dan berat untuk mengharapkan partai-partai ini mendukung, apalagi kalau dia bukan kader partai,” kata Qodari saat dihubungi di Jakarta, Ahad, 1 April 2018.

    Adapun Gatot Nurmantyo mengaku siap jika ditakdirkan bertarung di Pilpres 2019. "Apabila republik memanggil saya dan rakyat menghendaki, jadi apapun saya siap," kata Gatot ketika mengunjungi TEMPO, di Jalan Palmerah Barat 8, Jakarta, Selasa 27 Maret 2018.

    Beberapa saat sebelum menanggalkan seragam hijaunya, Gatot Nurmantyo aktif bertemu dengan ketua umum partai politik. Beberapa di antaranya adalah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

    Namun menurutnya pertemuan itu adalah bentuk ucapan terima kasih atas dukungan partai politik selama ia menjabat sebagai Panglima TNI. "Etika saya begitu saya selesai menjadi Panglima TNI, saya juga melaporkan,” kata Gatot.

    Gatot Nurmantyo sempat heran karena yang muncul adalah cerita ia melamar jadi calon presiden ke partai-partai tersebut. "Keluar munculnya, saya mau beli partai Pak Prabowo, ha-ha-ha," ujarnya tergelak.

    Pertemuan Gatot dan Prabowo di Kertanegara dibenarkan Muhammad Syafi'i. Anggota Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra ini menyebutkan Gatot menyatakan kesiapannya untuk maju dalam pemilihan presiden. "Pak Gatot kan datang, ya, mendaftarlah untuk menjadi capres," kata Syafi'i, pada Kamis 22 Maret 2018.

    Menurut Syafi'i, pernyataan Gatot itu disampaikan ketika partainya belum membuka ruang pengajuan diri bagi calon presiden dan wakil presiden yang diusung Gerindra. "Cuma dia datang menyatakan, bila memang memungkinkan, siap," katanya. Partai Gerindra, kata dia, satu suara untuk mengusung Prabowo.

    Gerindra tak langsung menerima tawaran Gatot. Syafi'i menjelaskan partainya masih akan melihat konfigurasi politik menjelang pendaftaran pasangan capres dan cawapres sambil memantapkan susunan partai koalisi pendukung. Menurut dia, pendamping Prabowo harus bisa meningkatkan elektabilitas Prabowo dan partai pengusung. "Siapa yang menjadi cawapres, saya kira masih banyak pertimbangan," katanya.

    Gatot membantah. Menurut dia, pertemuan itu sama sekali tak menyinggung soal pembahasan calon presiden dan wakil presiden dalam pertemuan sekitar awal Februari 2018. “Sama sekali tidak menyinggung itu. Begitu saya jawab seperti itu, langsung bicara hal lain,” ujarnya. Pertemuan dengan Prabowo, Gatot menilai, sebagai pertemuan biasa antara junior dan seniornya.

    Baca juga: Jejak Karir Gatot Nurmantyo, Jadi Tentara Demi Sekolah Adik

    Ketua DPP Partai Gerindra, Desmond Junaidi Mahesa, mengatakan pertemuan itu adalah pertemuan biasa antar sesama prajurit TNI. "Kalau soal pilpres, Pak Gatot paham seniornya. Hubungan mereka sama tentara AD tidak pernah putus," ujarnya. Desmond mengatakan partainya belum memperhitungkan Gatot sebagai salah satu nama yang bakal diusung dalam pilpres.

    Gatot bukan tanpa dukungan. Kelompok Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN) berencana mendeklarasikan dukungan untuk Gatot agar maju dalam pemilihan presiden. Ketua RSPN Rama Yumatha mengklaim pendukung Gatot yang tergabung dalam kelompok relawan mencapai 2 juta orang. "Dalam waktu dekat kami segera bertemu," kata Rama. Bertemu di Masjid Al Azhar pada 3 Maret 2018, awalnya Gatot menyatakan tak tahu-menahu soal kelompok ini.

    Tidak hanya merapat ke Prabowo dan Gerindra, Gatot juga masuk dalam sejumlah survei untuk menjadi calon wakil presiden untuk Joko Widodo yang resmi diusung PDI Perjuangan. Namun, Gatot enggan berbicara banyak soal kemungkinannya menjadi cawapres untuk Jokowi. "Kalau itu tanya sama beliau-lah, jangan sama saya. Jadi begini, saya bukan pelacur politik. Saya, selama ini, jabatan yang mencari saya," katanya.

    Politikus PDI Perjuangan , Bambang Wuryanto, mengkonfirmasi adanya pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Gatot tak lama setelah lengser. "Ya benar, di TU (Teuku Umar)," kata Bambang. Namun, ia mengaku tak tahu-menahu apa yang dibahas dalam pertemuan tersebut.

    Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan tak tahu-menahu soal pernyataan Gatot soal pertemuan dengan Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono. "Biasanya kalau ada tamu, saya tahu," kata Hinca. Ia pun menganggap wacana pencalonan Gatot sebagai calon presiden atau wakil presiden adalah hal biasa. Meski menyambut kontestasi Gatot, Hinca menyatakan partainya masih berfokus meningkatkan elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono.

    Gatot Nurmantyo mengutarakan niatnya untuk maju sebagai calon presiden pada 2019. Meski menjadi purnawirawan TNI, Gatot mengatakan dirinya telah memiliki hak politik untuk maju dalam pemilu. "Jadi apapun jabatannya, kalau memang rakyat memanggil, republik memanggil, ya saya mau jadi apa saja," ujarnya.

    Ia pun menyuarakan pandangan politiknya. Ia menyebut, politik itu harus sabar, politik itu cair dan tidak boleh menunjukkan arahnya, dan pengambilan keputusan di detik-detik akhir. "Dalam kondisi seperti ini, kalau saya bilang, “Oh, saya mau jadi wakilnya ini, saya mau jadi wakil nya itu.” Lo mimpi atau gimana?" ujar Gatot.

    GATOT NURMANTYO DALAM SURVEI CALON PRESIDEN

    INDO BAROMETER

    Elektabilitas 5 Besar Calon Presiden
    Joko Widodo: 47,5 persen
    Prabowo Subianto: 19,4 persen
    Gatot Nurmantyo: 2,4 persen
    Anies Baswedan: 1,8 persen
    Agus Harimurti Yudhoyono: 0,9 persen

    POLTRACKING
    Elektabilitas 5 Besar Calon Presiden
    Joko Widodo: 55,9 persen
    Prabowo Subianto: 29,9 persen
    Anies Rasyid Baswedan: 2,8 persen
    Gatot Nurmantyo: 2,3 persen
    Agus Harimurti Yudhoyono: 2,1 persen

    SMRC
    Elektabilitas 5 Besar Calon Presiden
    Joko Widodo: 38,9 persen
    Prabowo Subianto: 10,5 persen
    Susilo Bambang Yudhoyono: 1,4
    Gatot Nurmantyo: 0,8 persen
    Anies Baswedan: 0,5 persen

    --------------------------------------------

    GATOT NURMANTYO DALAM SURVEI CALON WAKIL PRESIDEN

    INDOBAROMETER
    Elektabilitas Calon Wakil Presiden
    Anies Baswedan: 20,6 persen
    Gatot Nurmantyo: 17,6 persen
    Agus Harimurti Yudhoyono: 16,7 persen
    Ridwan Kamil: 16,0 persen
    Sri Mulyani Indrawati: 4,1 persen

    POLTRACKING
    Elektabilitas Calon Wakil Presiden
    M. Jusuf Kalla: 15,9 persen
    Gatot Nurmantyo: 7,9 persen
    Agus Harimurti Yudhoyono: 7,6 persen
    Anies Rasyid Baswedan: 7,5 persen persen
    Ridwan Kamil: 6,1 persen

    SMRC
    Elektabilitas Calon Wakil Presiden
    M. Jusuf Kalla: 14,1 persen
    Agus Harimurti Yudhoyono: 12,7 persen
    Gatot Nurmantyo: 12,2 persen
    Hary Tanoesudibjo: 6,0 persen
    Wiranto: 5,0 persen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.