Minggu, 21 Oktober 2018

Penyerangan di Gereja St Lidwina, Ancaman Serius di Tahun Politik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pasca-penyerangan Gereja Santa Lidwina, Sleman Yogyakarta. Aparat kepolisian terlihat masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Suasana pasca-penyerangan Gereja Santa Lidwina, Sleman Yogyakarta. Aparat kepolisian terlihat masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah kalangan mendesak pemerintah agar mengusut otak pelaku kekerasan bermodus penyerangan terhadap tokoh agama termasuk penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Yati Andriyani, mengatakan penyerangan terhadap tokoh agama tak bisa dipandang terpisah hanya dari setiap kasus yang muncul.

    "Ini ancaman serius. Dampaknya akan meluas jika hanya diselesaikan kasus per kasus tanpa melihat dimensi politik," kata dia kepada Tempo, Ahad, 11 Februari 2018.

    Baca juga: Ketua DPR: Kasus Gereja Sleman Jangan Jadi Ajang Adu Domba

    Menurut Yati, sejumlah kekerasan yang menimpa tokoh agama tidak bisa dilepaskan dengan situasi politik menjelang pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni 2018 dan Pemilihan Umum 2019. Ia yakin ada otak di balik setiap kasus penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama. Sebab, dalam kontestasi pilkada, kata dia, pendukung akan menggunakan cara-cara bermuatan suku ras dan agama untuk memecah belah masyarakat di akar rumput.

    Dalam dua bulan terakhir terjadi empat penyerangan terhadap tokoh agama. Pada 27 Januari lalu, pemimpin Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, Kiai Umar Basri mendapat penganiayaan orang tak dikenal. Pada 1 Februari lalu, Komando Brigade Persatuan Islam di Bandung, Ustaz Prawoto, tewas dianiaya orang yang diduga mengalami depresi. Enam hari berselang, persekusi dialami Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Legok, Tangerang.

    Kemarin, kekerasan menimpa Romo Edmund Prier, SJ, beserta jemaatnya di Gereja St Lidwina Bedog Trihanggo, Sleman, Yogyakarta. Ia diserang dengan pedang oleh Suliyono, yang berstatus mahasiswa asal Banyuwangi.

    Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, mengatakan kasus-kasus yang muncul menimpa tokoh agama merupakan bentuk serangan kebebasan beragama lantaran terjadi ketika mereka sedang beribadah. Ia menilai penyerangan terjadi karena ada kelompok yang merasa diuntungkan secara ekonomi, politik, ataupun sosial dengan menggunakan isu keagamaan.

    "Kalau terus dilakukan pembiaran dan tidak diselesaikan secara serius, hal itu dikhawatirkan akan menjadi problem yang lebih besar lagi di kemudian hari," ujar dia.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Muhammad Iqbal, meminta semua pihak tidak berasumsi terlalu jauh perihal banyaknya kasus penyerangan terhadap sejumlah tokoh agama termasuk penyerangan di Gereja St Lidwina. Ia memastikan kepolisian setempat bakal menegakkan hukum. "Yang jelas, kami saat ini melakukan proses penegakan hukum sesuai dengan fakta yang ada," kata dia sembari meminta masyarakat agar tidak menganggap itu sebagai pengalihan isu.

    RIANI SANUSI PUTRI | M. YUSUF MANURUNG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.