Sandiaga Uno, Soal Tanah Abang, dan Nasib 3.200 Pekerja

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandiaga S. Uno. TEMPO/Fardi Bestari

    Sandiaga S. Uno. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan Jalan Jatibaru Raya di Tanah Abang, Jakarta Pusat, hanya akan dibuka kembali setelah relokasi pedagang rampung. Sandiaga menyatakan hal itu menanggapi rekomendasi dari Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya, yang di antaranya meminta fungsi jalan tersebut segera dikembalikan lagi.

    Sandiaga menerangkan bahwa para pedagang kaki lima yang saat ini diberi tempat berjualan di atas ruas Jalan Jatibaru Raya akan dipindahkan ke lahan penampungan sementara. “Kami tak mau mencabut lebih dari 3.200 lapangan pekerjaan yang ada di sana begitu saja,” kata Sandiaga, Minggu, 28 Januari 2018.

    Menurut Sandiaga, angka 3.200 itu dari 400 unit tenda yang disediakan pemerintah DKI Jakarta di Jalan Jatibaru. Di sana, setiap penghuninya—mereka menempati tenda secara gratis—mempekerjakan hingga delapan orang.

    Baca : Evaluasi Tanah Abang, Polisi Sebut Kemacetan Malah Melonjak 60 Persen

    Rencananya, mereka semua dan pedagang yang saat ini berjualan di dalam Blok G Pasar Tanah Abang akan dipindah ke lahan seluas 5.000 meter persegi di sebelah Hotel Pharmin. Pemerintah DKI Jakarta menganggarkan Rp 20 miliar untuk mendirikan bangunan semipermanen yang bisa menampung 830 pedagang di lokasi itu.

    Sandiaga mengatakan lahan itu akan disewa maksimal selama tiga tahun atau sepanjang revitalisasi dilakukan terhadap bangunan Blok G. Ia memperkirakan negosiasi harga sewa lahan akan selesai paling lambat dua pekan mendatang. Ia juga berjanji bakal mengundang perwakilan pedagang untuk membahas relokasi tersebut—meski tak menyebut kapan pertemuan itu.

    Sambil berdiskusi dengan pedagang, Sandiaga memastikan akan menindaklanjuti rekomendasi dari Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya tentang pembukaan kembali Jalan Jatibaru Raya. “Tentu rekomendasi harus ditindaklanjuti,” kata dia.

    Jalan Jatibaru Raya sengaja ditutup sejak 22 Desember lalu. Tujuannya, memberi ruang kepada pedagang kaki lima yang sebelumnya dianggap membuat ruwet lalu lintas di kawasan itu. Namun langkah menutup jalan oleh pemda DKI tersebut menuai banyak kecaman, termasuk dari Polda Metro Jaya.

    Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Halim Pagarra, mengatakan dari hasil pengamatan sekitar satu bulan, tingkat kepadatan lalu lintas di area Tanah Abang telah bertambah 60 persen. Saat Jalan Jatibaru Raya ditutup, Halim menjelaskan, arus lalu lintas di beberapa titik menjadi macet pada jam-jam tertentu.

    Angkutan umum juga harus mengantre untuk berputar arah di kolong jalan layang Tanah Abang. Belum terhitung keluhan warga yang tinggal di kawasan itu karena harus memutar lantaran akses menuju tempat tinggalnya ditutup.

    Baca: Anies Baswedan Diminta Buka Jalan, PKL Tanah Abang Pasrah

    Untuk itu, Halim mengatakan, rekomendasi untuk pemerintah DKI Jakarta adalah membuka dan mengoptimalkan kembali fungsi Jalan Jatibaru Raya.
    “Sehingga tidak terjadi kemacetan, kecelakaan, serta bisa meningkatkan kinerja lalu lintas,” kata dia.

    Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, berdalih penutupan Jalan Jatibaru Raya bersifat sementara. Penutupan itu dilakukan sambil menunggu desain kawasan itu rampung dibuat.

    Dinas Perhubungan, menurut dia, juga mengkaji perkembangan kebijakan penutupan jalan itu setiap harinya. Kajian itu menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kebijakan lanjutan di kawasan Tanah Abang.

    CAESAR AKBAR | M. ROSSENO AJI | DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.