Selasa, 22 Mei 2018

Alasan PDIP Usung Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 7 Januari 2018. ANTARA FOTO(kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 7 Januari 2018. ANTARA FOTO

    Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 7 Januari 2018. ANTARA FOTO(kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 7 Januari 2018. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) membuat kejutan di hari terakhir sebelum pendaftaran calon kepala daerah di Komisi Pemilihan Umum yang dimulai hari ini, Senin, 8 Januari 2018. Partai berlambang banteng moncong putih ini batal mencalonkan Ridwan Kamil-Anton Charliyan sebagai calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat. PDIP mengusung Mayor Jenderal (Purnawirawan) Tubagus Hasanuddin dan Inspektur Jenderal Anton Charliyan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan keputusan itu diambil partainya setelah bertemu dengan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar pada pernikahan anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Sabtu pekan lalu. “Mereka sepakat mengusung Uu Ruzhanul Ulum sebagai pendamping Ridwan,” ucap dia di kantornya, Minggu, 7 Januari 2018.

    Baca: TB Hasanuddin-Anton Charliyan Akan Pakai Strategi Sangkuriang

    Hasto membawa keputusan itu dalam rapat bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pertemuan itu pun akhirnya memutuskan PDIP tidak berkoalisi dengan partai mana pun dalam pilkada Jawa Barat dan mencalonkan Tubagus-Anton. Anton sebelumnya menjabat Wakil Kepala Lembaga Pendidikan Polri. PDIP memang bisa maju sendiri karena punya 20 kursi DPRD, syarat minimal pencalonan.

    Seorang politikus PDIP menuturkan sebetulnya kesepakatan itu diambil karena Ridwan menolak dipasangkan dengan Anton. Penyebabnya, menurut dia, Ridwan khawatir akan diserang dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). “Anton pernah bermasalah dengan kelompok Islam ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar,” kata sumber ini. Ridwan tak menjawab pertanyaan perihal ini. Sebelumnya, Romahurmuziy menyatakan PPP akan menarik dukungan jika Ridwan berpasangan dengan Anton.

    Ketua PDIP Andreas Hugo Pareira tak membantah perihal isu SARA itu. “Tapi, itu sudah lewat, dan sekarang kami fokus untuk memenangkan Tubagus-Anton,” ujar dia. Ia yakin partainya bisa memenangi pilkada Jawa Barat.

    Baca: TB Hasanuddin Kecup Kepala Anton Charliyan, Megawati Tersenyum

    Andreas menyatakan, dalam pilkada 2013 lalu, partainya juga maju tanpa berkoalisi dengan mengusung Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki. Pasangan ini pun mengantongi 5,7 juta suara, namun kalah oleh pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, yang kini menjadi Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat. “Itu modal sosial, dan bisa dinaikkan dengan lebih menggerakkan mesin partai,” kata dia.

    Megawati menuturkan keputusan mengusung Tubagus-Anton bukan hal yang mudah dan ia kerap marah jika berbicara tentang pilkada Jawa Barat. Penyebabnya, kata dia, banyak kalangan yang menyebut PDIP harus berkoalisi. “Saya bilang tidak. Saya ini banteng, kalau sudah keluar kumis dan bilang tidak, sudah enggak ada yang berani ngomong,” ujar dia. “Ini pertarungan, dan pasangan berlatar belakang TNI-Polri ini siap bertarung.”

    Tubagus Hasanuddin menuturkan kesiapannya dalam memenangi pilkada Jawa Barat setelah resmi ditunjuk oleh Megawati. “Di belakang saya, seluruh kader PDIP mendukung,” ujar dia. Adapun Anton menjelaskan akan menggunakan strategi Sangkuriang dan sinergi pensiunan TNI dan Polri. Anton juga menampik kabar adanya masalah dengan pemilih Islam, terutama FPI. “Saya ini masih darah santri.”


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.