Cerita Lobi Pengembang Pulau Reklamasi ke Anies Baswedan

Reporter:
Editor:

Sunu Dyantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Usai dilantik pada 16 Oktober 2017, berbicara kepada media, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjawab pertanyaan wartawan soal reklamasi.  ISTMAN MPD

    Usai dilantik pada 16 Oktober 2017, berbicara kepada media, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjawab pertanyaan wartawan soal reklamasi. ISTMAN MPD

    TEMPO.CO, Jakarta - Berkali-kali pengembang reklamasi melobi Gubernur DKI Anies Baswedan agar proyek pengurukan laut di Teluk Jakarta itu tak dihentikan. Lobi antara lain mereka lakukan melalui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

    Mantan ketua tim sinkroninasi Anies-Sandiaga, Sudirman Said, membenarkan adanya pertemuan antara pengembang reklamasi dan Anies di rumah Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, itu. "Aku dengar pertemuan itu," ujar Sudirman saat dihubungi, Senin, 23 Oktober 2017.

    Baca: Stop Reklamasi Teluk Jakarta Jadi PR Besar Anies-Sandi

    Pertemuan yang dibalut acara makan siang itu terjadi pada awal Agustus lalu. Kala itu, Prabowo mengundang Anies ke rumahnya. Ternyata, di sana telah ada Richard Halim, anak Sugianto Kusuma alias Aguan, pemilik Agung Sedayu Group--induk perusahaan pengembang reklamasi Pulau C dan D, PT Kapuk Naga Indah. Ada pula bos Grup Artha Graha, Tomy Winata, dan tangan kanan Aguan, Ali Hanafi.

    Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta dari Gerindra, Muhammad Taufik, juga terlihat ada di sana. “Pertemuan itu hanya untuk kulonuwun ke gubernur baru," kata Taufik, Kamis, 19 Oktober 2017.

    Menurut orang dekat Anies, atas perintah Tomy, Ali Hanafi menjelaskan lebih jauh soal proyek reklamasi kepada Anies. Dia membawa segepok berkas mengenai apa saja yang telah dilakukan  PT Kapuk Naga Indah. Tomy dan Richard juga menyatakan bahwa pengembang bersedia membayar kontribusi tambahan sebesar 15 persen. "Intinya, mereka menjelaskan proyek itu telah berjalan," kata sumber Tempo yang mengetahui pertemuan itu.

    Lobi pengembang tak cuma itu. Mereka berusaha mendekati Anies sejak masa kampanye pemilihan gubernur lalu. Ali beberapa kali membujuk Anies agar bersedia datang ke kantor Aguan di Yayasan Buddha Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk. Tapi Anies selalu menolak.

    Simak : Moratorium Reklamasi Dicabut, Ini Permintaan Menteri Luhut ke DKI

    Ali lantas menawarkan opsi lain. Dia mengundang Anies untuk bertemu Aguan di tempat “netral” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Lagi-lagi Anies tak mau. "Terakhir, Aguan bersedia datang ke rumah Anies, tapi ditolak juga," kata orang dekat Anies tadi.

    Menurut Sudirman, pertemuan yang berlangsung hampir satu jam di Hambalang itu tak membuahkan kesepakatan apa pun antara Anies dan pengembang. "Tidak ada kesepakatan apa-apa," ujar Sudirman, kemarin. Bahkan, Anies sempat menolak ketika diajak berfoto oleh pengembang.

    Saat dimintai konfirmasi, Ali enggan berkomentar. Sambungan telepon tiba-tiba terputus ketika Tempo memperkenalkan diri. Saat dihubungi kembali, nomor Ali tidak aktif.

    Kepada majalah Tempo, Tomy Winata mengatakan tak tahu ada pertemuan di Hambalang yang membicarakan reklamasi. Dia beralasan sedang berada di Eropa selama sebulan terakhir. "Mungkin informasinya tidak pas," kata Tomy melalui pesan pendek.

    Kuasa hukum PT Kapuk Naga Indah, Kresna Wasedanto, juga enggan berkomentar ihwal pertemuan tersebut. Menurut dia, tugasnya bukan untuk menanggapi hal itu, melainkan memastikan semua proses reklamasi tak melanggar aturan. "Kami taat aturan," ujar Kresna.

    Adapun Anies, ketika dimintai konfirmasi, hanya mengatakan, "Baca majalah Tempo saja." Cerita lengkap tentang lobi pengembang reklamasi bisa dibaca di majalah.tempo.co

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Baca juga: Pak Anies, Pejabat Daerah Tak Bisa Minta Prioritas di Jalan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.