Angkatan Udara Kandangkan Lima Fokker

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Fokker F-27 A2780 terlihat bermanuver dan terbang rendah tak jauh dari Bandara Halim Perdanakusuma. Foto: Pasya Ekert [ Pa'e|Fotografi ] untuk TEMPO

    Pesawat Fokker F-27 A2780 terlihat bermanuver dan terbang rendah tak jauh dari Bandara Halim Perdanakusuma. Foto: Pasya Ekert [ Pa'e|Fotografi ] untuk TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - TNI Angkatan Udara mengandangkan lima pesawat Fokker 27-200 setelah jatuhnya pesawat sejenis pada Kamis siang lalu. Belum diketahui apakah pesawat-pesawat tua itu akan diizinkan terbang lagi.

    "Setelah kecelakaan ini, pesawat (Fokker) ini akan ditahan dulu untuk tak terbang," kata juru bicara TNI AU, Marsekal Madya Azman Yunus, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Ia mengaku tak mengetahui apakah Fokker dikandangkan sampai penggantinya tiba atau sampai hasil investigasi muncul.

    Menurut Azman, TNI AU sekarang memiliki lima pesawat setelah Fokker nomor registrasi A2708 yang tengah menggelar latihan touch and go itu mengalami kecelakaan. Sebelas orang, termasuk tujuh awak pesawat, tewas dan belasan terluka dalam kecelakaan tersebut. Fokker itu biasanya digunakan untuk latihan atau pengangkutan jarak pendek.

    Sebagai pengganti, pemerintah sudah menyiapkan CN-295 buatan Casa, Spanyol. "Pemesanan sudah dilakukan, dan ditargetkan awal tahun depan sudah sampai," ucap juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, dua hari lalu.

    Azman menjelaskan, TNI AU sudah membentuk tim penyelidik. Anggota tim berisi perwakilan berbagai kalangan penerbangan TNI AU. Azman juga memastikan hasil penyelidikan hanya akan dilaporkan kepada kalangan internal TNI AU. "Hasil penyelidikan pesawat militer bukan konsumsi umum."

    Sumber Tempo mengatakan, Fokker yang dipiloti Mayor Penerbang Heri Setiawan itu jatuh setelah beberapa kali melakukan manuver touch and go. Ketika sedang menanjak lagi, mesin kanan mati. Pesawat memelintir sebelum jatuh menimpa delapan rumah di Jalan Branjangan, kompleks perumahan Rajawali, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

    Pengamat penerbangan, Alvin Lie, berpendapat, pemerintah mesti memperbarui dan menambah jumlah pesawat untuk TNI AU. Menurut dia, armada pesawat tempur Indonesia masih lemah, baik secara kualitas maupun kuantitas. "Tak bisa hanya perawatan," ucapnya kemarin.

    ANANDA P | MITRA T | JOBPIE S

    Berita lain:
    TNI Angkatan Udara Kandangkan Fokker 27

    Hasil Investigasi Fokker Jatuh Tak Diumumkan

    TNI AU: Fokker-27 Mungkin Terbang Satu Mesin

    Pesawat Tua TNI AU Diminta Segera Diganti


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.