Jokowi Dihadang Hujan dan Macet

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, berkunjung ke pinggir Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Bukit Duri, Jakarta, (6/11) untuk melihat penyebab banjir diwilayah tersebut. Tempo/Tony Hartawan

    Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, berkunjung ke pinggir Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Bukit Duri, Jakarta, (6/11) untuk melihat penyebab banjir diwilayah tersebut. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Puncak musim hujan mulai mengganggu Jakarta. Kepala Badan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Arfan Arkilie menyebutkan sebanyak 13 kelurahan telah terendam banjir. “Seluruhnya 2.755 kepala keluarga menjadi korban,” katanya Kamis, 22 November 2012.

    Genangan air itu menyebabkan kemacetan di ruas-ruas jalan makin parah. Padahal, tanpa hujan pun, lalu lintas Jakarta biasa tersendat. “Kalau hujan, kami biasanya menambah dua kompi lagi anggota di lapangan, dan mereka bisa bertahan hingga jam 12 malam,” kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Wahyono kepada Tempo kemarin.

    Pengamat tata kota serta transportasi, Yayat Supriyatna, menilai Jokowi hingga lima minggu kepemimpinannya masih lebih banyak blusukan (mendatangi langsung) di lapangan. Ia meminta Jokowi fokus kalau ingin memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. “Prioritaskan. Dengan begitu, kunci masalah bisa dipahami,” katanya.

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku mengatasi banjir dan kemacetan di Jakarta sangat sulit. “Dewa saja belum tentu bisa," ujarnya, Senin lalu, yang diulanginya lagi kemarin di Balai Kota.

    Menanggapi pernyataan Jokowi, Direktur Rujak Center for Urban Studies Marco Kusumawijaya mengatakan penanganan kemacetan dan banjir di Ibu Kota tak bisa ditawar-tawar. “Ini bukan soal pilihan realistis atau tidak dikerjakan dalam waktu dekat, tapi harus,” kata dia.

    Rencana transportasi massal yang sudah digadang-gadang bisa dinikmati warga ibu kota pun berubah. Pemerintah mengubah dua koridor menjadi tiga koridor, kini rute utama dinyatakan akan diprioritaskan untuk rute keberangkatan dari Bekasi dan Cibubur. "Kami lebih kejar dua daerah itu karena cukup padat," kata Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta kemarin.

    Menurut Basuki, rencana pembangunan monorel dari Bekasi dan Cibubur itu akan disambungkan untuk mengantisipasi padatnya penumpang. Namun dia tidak menjawab berapa besar potensi penumpang monorel dari kedua daerah itu. "Yang pasti, rutenya berubah," kata dia.

    Basuki mengatakan, rencana pembangunan monorel itu masih dalam kajian perusahaan BUMN. Mereka adalah PT Adhi Karya, PT Telkom, PT Lembaga Elektronika Komunikasi (LEN), serta PT Kereta Api Indonesia. Basuki berharap pembangunan monorel sudah akan dimulai tahun depan dan beroperasi pada 2015.

    Sebelumnya, Gubernur Joko Widodo menyatakan pembangunan monorel akan segera dimulai. Proyek senilai Rp 12 triliun itu nantinya akan menggunakan dana dari pemerintah pusat dan provinsi sebesar 30 persen, sisanya dari pinjaman. Tarifnya sudah ditaksir Rp 10 ribu untuk sekali jalan.

    Kepastian rencana pembangunan monorel itu bertolak belakang dengan nasib mass rapid transit (MRT). Kepada para wartawan, Jokowi menyatakan belum juga bisa memutuskan karena belum mendapat kepastian ihwal pengembalian investasi dari proyek senilai Rp 15 triliun untuk koridor awalnya itu.

    Dia menuding PT MRT Jakarta tidak kunjung menjelaskan secara gamblang. "Ini pekerjaan sampai 51 tahun mendatang, lalu saya harus memutuskan sesuatu yang tidak jelas. Ini bagaimana," katanya kemarin.

    DIMAS SIREGAR | SUTJI DECILYA | ISTMAN MP | ANGGRITA DESYANI | TRI ARTINING PUTRI | ATMI PERTIWI | ADITYA BUDIMAN | WURAGIL

    Berita lain:
    Jokowi dan Julukan Gubernur Taksi

    Jokowi: Produk Ekonomi Kreatif Butuh Etalase 

    Bakal Ada 100 Kampung Ala Jokowi di Jakarta

    Dijuluki Mahadewa oleh Jaya Suprana, Jokowi Nyengir

    3 Tempat Pelestarian Budaya Betawi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.