Hasil Investigasi TNI Dianggap Janggal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo (dua kiri)  bersiap memberikan keterangan pers terkait insiden penyerangan oleh gerombolan bersenjata ke LP Cebongan Sleman di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat (29/3). ANTARA/Andika Wahyu

    Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo (dua kiri) bersiap memberikan keterangan pers terkait insiden penyerangan oleh gerombolan bersenjata ke LP Cebongan Sleman di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat (29/3). ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta -  Aktivis hak asasi manusia menilai hasil investigasi TNI Angkatan Darat atas kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, janggal. TNI diduga mengarahkan opini bahwa penyerangan dilakukan oleh personel berpangkat rendah tanpa melibatkan atasannya. “Justru yang perlu diusut adalah apakah ada komando dalam penyerangan itu,” ujar Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, kepada Tempo, Jumat 5 April 2013.

    Indikasi kejanggalan itu, kata dia, antara lain, sejak awal TNI sudah menepis penyerangan itu terencana. TNI juga menyebutkan hanya ada 11 anggota Komando Pasukan Khusus yang terlibat. Padahal sejumlah saksi menyebutkan jumlahnya mencapai 17 orang. “Itu pun masih dikurangi dua orang yang dikatakan berusaha mencegah,” tutur Hendardi.

    Pada penyerbuan Sabtu, 23 Maret 2013 dinihari itu, pelaku menembak mati empat tahanan di sel A5. Keempat korban tersebut adalah tersangka pembunuh anggota Kopassus, Sersan Kepala Santoso, di Hugo's Cafe, Sleman, pada 19 Maret 2013.

    Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, mengungkapkan bahwa temuan TNI cuma berfokus pada hari penyerbuan. Sedangkan temuan Kontras menunjukkan banyak dinamika yang terjadi beberapa hari sebelum penyerangan. "Misalnya, ada pertemuan antara petinggi TNI dan Polri beberapa hari sebelum penyerangan. Mereka tahu akan ada kejadian ini, tapi tidak mencegahnya," tutur dia.

    Hasil investigasi Kontras juga menunjukkan penyerangan dilakukan oleh lebih dari 11 orang yang datang menggunakan truk. Temuan ini berbeda dengan pengakuan TNI yang menyebutkan pelaku berjumlah 11 orang yang mengendarai tiga mobil, Toyota Avanza, Suzuki APV, dan Daihatsu Feroza.

    Seorang warga di sekitar lokasi latihan Kopassus di Gunung Lawu berujar, hampir tak mungkin peserta latihan meninggalkan lokasi karena selalu diawasi ketat oleh pelatih. Apalagi jarak dari tempat latihan ke markas pelatih sekitar 1-2 kilometer, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Adapun jarak dari markas ke dusun sekitar 1 kilometer.

    Keluarga korban penembakan juga menolak hasil tim investigasi TNI. "Hasil investigasi itu merupakan bagian dari rekayasa untuk menutupi skenario pembantaian dan jaringan pelaku yang lebih luas," kata Yani Rohi Riwu, kakak Gameliel Rohi Riwu, di Kupang kemarin.

    Markas Besar TNI membantah tudingan adanya rekayasa dalam hasil investigasi, dan meminta keluarga korban menunggu hasil investigasi lanjutan. "Masyarakat bisa saja punya pendapat berbeda, tapi buktinya ada apresiasi dari 250 juta penduduk Indonesia," kata juru bicara TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul, kemarin.

    Mengenai pergerakan sejumlah anggota Kopassus dari lokasi latihan di Gunung Lawu yang tidak diketahui atasannya, menurut Iskandar, hal itu mungkin saja terjadi. Para pelaku, ia melanjutkan, turun dari gunung pada waktu istirahat sekitar pukul 00.30. "Namanya juga pasukan khusus.”

    Sejumlah Kejanggalan Itu

    1.    Modus Penyerangan
    TNI AD:
    -Penyerangan dilakukan reaktif dan spontan sebagai balas dendam karena eksekutor berinisial U berutang budi kepada Serka Heru Santoso.
    - Tiga anggota Kopassus pelaku penyerangan turun dari Gunung Lawu, tempat latihan militer di Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli, Karanganyar, Jawa Tengah. Delapan anggota Kopassus Kandang Menjangan ikut ke penjara Sleman.

    Imparsial:
    Penyerang datang dari tempat berbeda. Tak mungkin pelaku bisa bertemu tanpa ada komunikasi dan menyusun rencana.

    Kontras:
    Kalau reaktif itu misalnya digebuk, lalu lima menit kemudian dibalas. Serangan ini selang berhari-hari (dari insiden awal--) dan pakai banyak senjata.



    2.    Motif Pembunuhan
    TNI AD:
    Prajurit Kopassus berinisial U, sebagai eksekutor, ingin balas dendam atas tewasnya Sersan Kepala Heru Santoso setelah dianiaya oleh empat tahanan yang dihabisi di penjara Sleman.

    Kontras:
    Tim Investigasi TNI AD mengumumkan motif balas dendam bisa jadi untuk meringankan hukuman dan menjauhkan dari kemungkinan keterlibatan atasan pelaku ataupun institusi. CCTV Hugo’s Cafe: Serka Heru Santoso sempat adu mulut sebelum terjadi pembunuhan.

    3.    Level Pelaku
    TNI AD:
    Anggota Kopassus yang terlibat berpangkat tamtama dan bintara.

    Kontras:
    -Diduga ada keterlibatan petinggi kepolisian dan TNI AD. Pada 19 Maret malam, ada rapat di Kepolisian Daerah Yogyakarta, yang dihadiri Kepala Polda, petinggi TNI, dan anggota Kopassus.



    4.    Formasi Penyerangan
    TNI AD:
    Sebanyak 11 anggota Kopassus terlibat dalam pembunuhan di penjara Sleman pada 23 Maret lalu. Sembilan orang ikut menyerang, satu orang sebagai eksekutor empat tahanan, dan dua orang lagi berusaha mencegah.

    Kontras:
    -Sekitar 17 orang menerobos masuk penjara Sleman. Pelaku mengenakan rompi dan penutup muka, menganiaya sipir dan merusak kamera pantau (CCTV).
    -Salah seorang pelaku ada yang berperan sebagai time keeper alias penjaga waktu. Dia terus-menerus melihat jam di tangannya.

    TIM TEMPO

    Berita Terpopuler:
    Investigasi TNI AD Dinilai Penuh Rekayasa 

    Profil Grup 2 Kopassus, Penyerang LP Cebongan

    SBY Bilang Pelaku Penyerangan LP Cebongan Kesatria

    Bukti DJ Verny, Celana Dalam Denny 

    Mabes Polri Copot Kepala Polda Yogyakarta 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.