Televisi Dimanfaatkan untuk Kepentingan Politik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi televisi. TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi televisi. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia menyatakan banyak laporan ihwal sejumlah pimpinan stasiun televisi yang memanfaatkan medianya untuk kepentingan politik sendiri menjelang pemilihan presiden 2014. “Pengaduan terbanyak soal iklan politik,” kata Riyanto kepada Tempo, tadi malam.

    Dalam catatan Tempo, ada tiga bos televisi yang juga petinggi partai politik yang bakal ikut bertarung dalam pemilihan presiden mendatang. Mereka adalah Aburizal Bakrie, pemilik TV One dan ANTV; Hary Tanoesoedibjo, pemilik televisi Media Nusantara Citra Group yang menaungi RCTI, MNC TV, dan Global TV; serta Surya Paloh, pemilik Media Group yang menaungi Metro TV.

    Dalam beberapa bulan ini, ketiga tokoh tersebut terlihat kerap muncul dalam tayangan televisi milik mereka dalam beragam format. Ada yang dalam bentuk pemberitaan, ada yang berupa iklan politik. (lihat infografis)

    Kemarin, di depan ribuan kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Hary Tanoe mendeklarasikan diri sebagai calon wakil presiden dari partai itu. Ketua Umum Partai Hanura juga mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2014. Keduanya tak menghiraukan rendahnya elektabilitas atau tingkat keterpilihan seperti dilansir hasil survei enam bulan terakhir. “Kami tidak berangkat dari hasil survei yang macam-macam itu,” kata Wiranto.

    Dalam diskusi dengan sejumlah wartawan senior bertajuk “Independensi Newsroom di Masa Pemilu” di Kantor Dewan Pers, kemarin, Ketua Dewan Pers Bagir Manan meminta media, khususnya televisi, menjaga marwah independensi menjelang Pemilu 2014. “Banyak masyarakat mulai mempertanyakan independensi media, terutama yang dimiliki tokoh politik,” ujar Bagir.

    Peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia, Adjie Alfaraby, mengatakan potensi bos media memanfaatkan jaringan televisinya untuk kepentingan politik sangat besar. “Kalau untuk popularitas memang berpengaruh signifikan,” ucapnya.

    Pemimpin Redaksi MNC TV, Ray Wijaya, menegaskan, pemilik stasiun tidak bisa memaksakan acara tertentu demi kepentingan politiknya. “Iklan politik dalam program berita juga minim,” kata dia.

    Adapun Pemimpin Redaksi Metro TV, Putra Nababan, enggan menanggapi ihwal sorotan bahwa Surya Paloh memanfaatkan stasiun televisi berita itu untuk kepentingan politiknya. Wakil Pemimpin Redaksi Totok Suryanto mengatakan iklan presiden Ical di TV One sudah sesuai dengan prosedur.

    FRANSISCO ROSARIANS | ERWAN HERMAWAN | ANTON A


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.