Caleg Selebritas, Partai Dianggap Cari Jalan Pintas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angel Lelga. Istimewa

    Angel Lelga. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang pemilihan legislatif 9 April, sejumlah nama selebritas bertebaran dalam daftar calon anggota legislatif. Setidaknya terdapat 77 penyanyi, bintang sinetron, film, presenter, model, hingga olahragawan yang tersebar di hampir semua partai politik.

    Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Syamsuddin Haris, mengatakan kaderisasi yang buruk membuat partai tidak memiliki kader yang layak dicalonkan. Alhasil, partai-partai mengambil jalan pintas dengan merekrut selebritas, yang dianggap memiliki modal publik.

    Dampaknya buruk: demokrasi tidak berkembang karena mereka hanya dipasang untuk memenuhi demokrasi prosedural. “Semua unsur dipenuhi, tapi cita-cita untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan melalui politik tidak tercapai,” ujarnya kemarin.

    Analis politik dari Charta Politica, Yunarto Wijaya, menilai pencalonan selebritas tak banyak bermanfaat buat meningkatkan suara partai. Ia mencontohkan, pada Pemilu 2009, dari 19 selebritas yang dicalonkan Partai Amanat Nasional, hanya Eko “Patrio” Hendro Purnomo dan Primus Yustisio yang terpilih.

    “Calon artis malah mempunyai beban karena rakyat lebih mengenal dia sebagai artis daripada politikus yang mumpuni,” kata dia. Masyarakat juga telah menyadari bahwa mereka hanya dijadikan peraup suara, dan malah menjauhi calon tersebut.

    Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan, Reni Marlinawati, menuturkan bahwa partainya mencalonkan selebritas sebagai anggota legislatif tidak semata-mata untuk meraup suara, tapi juga demi syiar agama. Pada Pemilu 2014, PPP antara lain mengusung penyanyi Angel Lelga.

    Mengenai Angel, ia menimpali, tak hanya dipasang untuk meraup suara, tapi juga mengajak perempuan mengenakan kerudung. "Jangan apriori dengan Angel Lelga, manusia itu bisa berubah lebih baik," kata Reni.

    Ketua DPP Partai Amanat Nasional Viva Yoga Mauladi menegaskan partainya tak menjadikan artis sebagai peraup suara. Alasannya, popularitas tidak berbanding lurus dengan elektabilitas. Dalam pemilu kali ini, PAN antara lain mencalonkan Desy Ratnasari dan Marissa Haque.

    Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf juga membantah ketika disebut mengandalkan para pesohor sebagai peraup suara. “Popularitas boleh, tapi tak hanya itu. Perlu juga elektabilitas, semuanya sama-sama belajar,” kata dia.

    SUNDARI | KHAIRUL ANAM | WAYAN AGUS PURNOMO | NUR ALFIYAH | EFRI R
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.