Debat Cawapres, Saling Serang Hatta dan Kalla

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden nomor urut satu Hatta Rajasa (tengah) berjabat tangan dengan cawapres nomor urut dua Jusuf Kalla (kiri) disaksikan moderator Dwikorita Karnawati saat Debat Cawapres 2014 di Jakarta, 29 Juni 2014. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/

    Calon wakil presiden nomor urut satu Hatta Rajasa (tengah) berjabat tangan dengan cawapres nomor urut dua Jusuf Kalla (kiri) disaksikan moderator Dwikorita Karnawati saat Debat Cawapres 2014 di Jakarta, 29 Juni 2014. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/

    TEMPO.CO, Jakarta -Dua calon wakil presiden saling serang dalam debat yang berlangsung semalam. Calon pendamping Joko Widodo, Jusuf Kalla, mempertanyakan peran Hatta Rajasa selama hampir lima tahun menjadi Menteri Koordinator Perekonomian sehingga kebocoran tetap terjadi.

    “Apakah penyebab kebocoran itu karena mafia sapi, mafia minyak, atau mafia gula?” kata Kalla dalam debat bertema “Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” itu di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin.

    Kalla juga menilai Hatta sekadar berwacana soal infrastruktur saat menjabat Menteri Koordinator Perekonomian. Bekas wakil presiden itu pun menanyakan inovasi Hatta saat menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Menurut Kalla kemudian, inovasi Hatta dalam pengembangan bibit tak terbukti karena Indonesia masih mengimpor bahan pangan.

    Hatta menyatakan Prabowo tak berbicara soal kebocoran anggaran negara senilai Rp 1.000 triliun. Menurut dia, kebocoran itu merupakan potensi kerugian negara yang timbul akibat kelalaian pengelolaan sumber daya alam. “Impor minyak bukan kejahatan. Kalau kejahatan, polisi, Komisi Pemberantasan Korupsi akan turun tangan,” kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional tersebut.

    Sebaliknya, Hatta mempersoalkan visi dan misi Jokowi-Kalla, yang disebutnya ingin menghapus verifikasi guru dan ujian nasional. Menurut Hatta—berulang kali menyatakan tak puas atas jawaban Kalla—pelaksanaan ujian nasional bisa mengukur standar dan pencapaian pendidikan di setiap daerah. Kalla menyatakan tak akan menghapus sertifikasi guru dan ujian nasional. Yang pasti, kata Kalla, bakal ada evaluasi terhadap pelaksanaan ujian nasional.

    Mantan Menteri Riset dan Teknologi, Mohammad Suhal, menilai program yang diajukan Hatta lebih jelas. Suhal mengatakan Hatta lebih menguasai permasalahan. “Hatta punya road map yang jelas dan rinci,” kata Suhal. Sedangkan Kalla, kata dia, lebih menyampaikan visi-misi secara pragmatis. “Dia praktisi, jadi lebih mengatasi keadaan yang mendesak sekarang.”

    Pengamat pendidikan Doni Koesoema menilai kedua calon wakil presiden tak punya solusi konkret untuk mengatasi berbagai masalah dalam dunia pendidikan. Dia mempertanyakan rencana Hatta menggelontorkan Rp 10 triliun untuk pengembangan teknologi dan riset. “Sekarang saja riset perguruan tinggi hanya Rp 500 miliar,” tuturnya.

    Dia pun menilai program pertukaran guru yang disebutkan Kalla tak masuk akal. “Mereka tak menguasai permasalahan debat.” Anggota Koalisi Pendidikan, Jimmy Paat, memuji konsep keadilan yang ditawarkan Kalla. “Pendidikan memang tak boleh ada pembagian kelas sosial.”

    IRA GUSLINA SUFA | ANANDA TERESIA | NUR ALFIYAH | HUSSEIN ABRI YUSUF | MUHAMAD RIZKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.