KPU Akui Potensi Kecurangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) menyalakan lilin dalam Aksi 1000 Lilin Mengapresiasi Kejujuran KPU di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, 12 Juli 2014. TEMPO/Nurdiansah

    Massa yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) menyalakan lilin dalam Aksi 1000 Lilin Mengapresiasi Kejujuran KPU di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, 12 Juli 2014. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta-Komisi Pemilihan Umum mewanti-wanti agar panitia penghitungan suara hasil pemilihan presiden tidak bertindak curang. “Ancamannya bisa pidana,” kata anggota KPU, Hadar Nafis Gumay, di kantornya, kemarin.

    Penghitungan suara di tingkat desa atau kelurahan berakhir kemarin, dan akan dilanjutkan di kecamatan sampai provinsi. Penghitungan terakhir di KPU dilakukan pada 20-22 Juli nanti. Menurut hasil hitung cepat sembilan lembaga survei, Joko Widodo-Jusuf Kalla memperoleh suara 53 persen, mengungguli Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan 47 persen suara.

    Hadar mengatakan panitia harus jeli mengecek perolehan suara di Formulir C1 dengan mengacu pada jumlah suara sah di tempat pemungutan suara. "Mungkin saja ada yang mau berbuat curang, tapi itu kan bisa dirunut lagi dan dikoreksi," kata dia. (Baca:Tiga Hari Pasca-Pilpres, Prabowo Menghilang)
    Potensi kecurangan, kata Hadar, bisa saja terjadi jika hasil pindaian lampiran formulir C1 yang dikirim ke KPU tidak dikoreksi. Contohnya, formulir C1 di TPS 47, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten. Di formulir itu, suara Prabowo-Hatta 814, Jokowi-Kalla mencapai 366. Tapi, jumlah suara sahnya 380. “Jika jumlah suaranya 380, tak mungkin perolehan suara salah satu pasangan calon mencapai 814,” kata Hadar.

    Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan Kelapa Dua, Banten, Selamet Riyadi, mengatakan suara Prabowo-Hatta sebenarnya cuma 14. “Di depan angka 14 itu angka 0 yang disilang dan terlihat seperti angka 8,” ujarnya.

    Dari penelusuran Tempo, ada pula hasil pindaian formulir C1 di TPS 10, Desa Pecekelan, Kecamatan Sapuran, Wonosobo, yang menjebak. Sepintas, terlihat Prabowo-Hatta memperoleh 605 suara, Jokowi-Kalla 160 suara. Tapi total suara sah 225. Setelah diamati, ada coretan kecil di angka 0 pada 605. Artinya suara Prabowo-Hatta sebetulnya cuma 65.

    Hasil pindaian formulir C1 di TPS 32 di Desa Kota Baru, Ciomas, Bogor, Jawa Barat, juga bermasalah. Di situ tertulis Prabowo-Hatta memperoleh suara 122, dan Jokowi-Kalla 192 suara. Tapi total suaranya 414. Ini artinya ada 100 suara yang hilang. (Baca:Kisruh Data C1, Kubu Prabowo Tak Ambil Pusing)

    Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor Haryanto Surbakti mengatakan ada kesalahan. Seharusnya, kata dia, pasangan Jokowi-Kalla memperoleh 292 suara, sehingga total suaranya klop sebanyak 414 suara. “Ini ada human error, kami akan cek apakah diperbaiki atau belum,” kata dia.

    Joko Widodo menginstruksikan tim pemenangan dan relawannya untuk siaga mengawal proses penghitungan suara. Adapun menurut Ketua tim sukses pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Mahfud Md., mengatakan hasil pindaian formulir C1 belum final. "Nanti dibandingkan dengan bukti lain, berita acara, dan formulir C1 yang ter-upload," ujar Mahfud.

    TIKA PRIMANDARI | INDRA WIJAYA | AMRI FATHON | LINDA TRIANITA | SIDIK PERMANA

    Baca juga:
    Peretas AnonGhost Retas Jutaan Situs Israel

    Saham Rontok, Viva Klaim Labanya Malah Melesat

    Konflik Palestina, Diplomat Makarim Ubah Strategi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.