BBM Naik, Jokowi Kejar Pertumbuhan 5,8 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan kendaraan roda empat mengantri dan memadati SPBU Pajajaran (RS Azra) hingga membludak ke luar jalan Raja Pajajaran, dua jam sebelum BBM jenis Premium mengalami kenaikan. TEMPO/Sidik Permana

    Ratusan kendaraan roda empat mengantri dan memadati SPBU Pajajaran (RS Azra) hingga membludak ke luar jalan Raja Pajajaran, dua jam sebelum BBM jenis Premium mengalami kenaikan. TEMPO/Sidik Permana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengakui, kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi akan menekan pertumbuhan ekonomi tahun ini hingga menyentuh angka 5,1 persen. Penyebabnya, “Konsumsi pasti akan sedikit menurun,” kata dia di kantor Kementerian Keuangan, Selasa 18 November 2014.

    Namun, tahun depan, pengalihan subsidi BBM dan dorongan investasi pemerintah justru akan membantu ekonomi tumbuh 5,8 persen. “Semoga FDI (foreign direct investment/investasi asing langsung) dan swasta (domestik) juga mengikuti. Jadi, pelemahan konsumsi dikompensasikan oleh investasi,” kata dia. (Baca: Subsidi BBM ke Sektor Produktif, Ekonom UGM: Bohong)

    Meski pertumbuhan ekonomi pada 2014 terkoreksi, ia optimistis defisit neraca transaksi berjalan akan lebih baik dibanding pada 2013. Pada tahun lalu, defisit transaksi berjalan masih berada di posisi 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Tahun ini, defisit diperkirakan sebesar 3 persen dari PDB. “Tahun depan akan semakin membaik, yaitu 2,5-3 persen terhadap PDB,” ucap dia. (Baca: Ibas Bandingkan Kenaikan BBM Era SBY dan Jokowi)

    Ekonom dari Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, sepakat mengatakan perekonomian dalam negeri memiliki harapan cukup cerah pada tahun depan. Syaratnya, "Pemerintah mampu memanfaatkan kondisi ekonomi dunia saat ini," kata dia. Lana memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 5,3-5,6 persen. (Baca: BBM Naik, Netizen Munculkan Beragam Meme Lucu)

    Dari segi pertumbuhan, menurut Lana, Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan bagi investor asing. Kondisi ekonomi dengan inflasi yang tengah meningkat berlawanan dengan negara-negara lain yang tengah mengalami tren penurunan inflasi. "Ketimbang membangun usaha di negara lain yang inflasinya turun, lebih baik di Indonesia yang tengah inflasi. Sebab, harganya kan lebih tinggi." (Baca: Mengapa Harga BBM Hanya Naik Rp 2.000?)

    Namun, Lana mengimbuhkan, pemerintah tak bisa berharap pada sumbangsih ekspor di tengah penurunan ekonomi dunia. Jepang dan Uni Eropa belum selesai dari masalah resesi ekonominya. Cina, yang banyak membuka pasar di Indonesia, pun ekonominya masih landai. "Kalau ekspor itu untuk bonus saja, jangan dijadikan andalan," kata dia. (Baca juga: BEM FE UI Dukung Kenaikan Harga BBM Bersubsidi)

    URSULA FLORENE SONIA | TRI ARTINING PUTRI | EFRI R

    Topik terhangat:
    Jokowi Vs BBM Subsidi
    | Profesor Nyabu | Ahok Dilantik Jadi Gubernur

    Berita terpopuler lainnya:
    BEM Indonesia Akan Turunkan Jokowi 

    Ceu Popong Ajukan Pertanyaan 'Bodoh' di Paripurna

    Jokowi: Jangan Tangkap Kapal Pencuri Ikan, tapi...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.