Pendukung ISIS Lakukan Aksi Teror di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bendera ISIS/ISIL. Wikipedia.org

    Ilustrasi bendera ISIS/ISIL. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta- Kepolisian RI sudah mengendus aksi teror pendukung Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) di Indonesia. "Kami menduga begitu, karena ada pengeboman yang menggunakan gas kloride atau chlorine bomb. Nah, ini khas digunakan oleh ISIS. Tapi mereka gagal menggunakannya di ITC Depok," kata Asisten Perencanaan Anggaran Kepala Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Tito Karnavian, kepada Tempo di kantornya, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 18 Maret 2015.

    Pada 23 Februari 2015 sebuah ledakan ringan terjadi di ITC Depok dan tidak mengakibatkan korban jiwa. Polisi menduga, kelompok yang melakukan aksi teror di Depok itu sama dengan yang melakukan peledakan di markas kepolisian di Cirebon dan sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Sebelum bergabung dengan ISIS, kelompok-kelompok ini melakukan aksi teror dalam payung organisasi berbeda. Menurut dia, kelompok ISIS membolehkan membunuh para penentangnya karena mereka dianggap kafir. “ISIS menyebutnya dengan takfiri (mengkafirkan orang lain),” kata dia.

    Menurut Tito, deklarasi ISIS oleh Abu Bakar al-Baghdadi pada 2013 memunculkan kontroversi di antara kelompok yang selama ini dianggap bertanggung jawab atas aksi teror. Ada yang setuju dan yang tidak untuk bergabung dengan ISIS. Dari yang setuju, berangkat 127 orang ke Irak dan Suriah. Merekalah rombongan pertama pendukung ISIS yang ke Timur Tengah. Mereka masuk melalui Mesir dan sebagian dilaporkan sudah tewas di Suriah dan Irak.

    Kepolisian RI menganggap gerakan radikal di Indonesia mendapat angin segar dari gerakan Negara Islam di Suriah dan Irak. Kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas aksi teror di Indonesia ini menjadikan kawasan itu sebagai lahan jihad baru.

    “Itu akan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berjihad di dunia,” kata Tito. “Bahayanya adalah saat mereka kembali ke negaranya.”

    Tito mengatakan, satu kelompok yang sebagian anggotanya mendukung ISIS adalah Mujahidin Indonesia Timur. Orang yang dituding Tito adalah Santoso, yang dianggap bertanggung jawab atas pelatihan di Poso. “Video pelatihan digunakan sebagai pengkaderan dan promosi juga,” kata dia. Santoso dianggap sebagai pelatih dari, antara lain, Iswahyudi, terpidana terorisme Bekasi Timur; dan Khairul Anam, terdakwa terorisme di masjid Kepolisian Resor Cirebon, Jawa Barat, pada 2011.

    Video kekerasan oleh kelompok yang mengklaim sebagai pendukung ISIS diedarkan di Internet. Baik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme maupun Kepolisian menganggap video itu disebarkan oleh kelompok ini. Sedangkan pendukung ISIS yang berangkat ke Turki dan Suriah terus bertambah. Terakhir, polisi mencatat jumlah mereka mencapai 514 orang yang sebagian bersama keluarganya.

    Juru bicara BNPT, Irfan Idris, mengaku upaya mencegah kegiatan radikal sudah dilakukan sejak 2010. BNPT, kata dia, memberdayakan masyarakat di pesantren maupun di rumah ibadah, di lembaga pemasyarakatan, dan dialog damai dengan sejumlah pentolan kelompok tersebut. Namun, Irfan mengatakan, umumnya pemuda yang berangkat memang sudah terpengaruh.

    Kepolisian berharap pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang dalam penanggulangan terorisme. "Ketika orang sudah menyatakan akan bergabung dengan ISIS, bisa kami pidana," kata Inspektur Jenderal Tito Karnavian kepada Tempo di Mabes Polri kemarin. Tito mengatakan, pendukung ISIS bisa dicabut kewarganegaraannya. Mereka yang kembali dari Irak dan Suriah bisa dipidana lantaran dianggap mendukung ISIS. "Kami bisa selidiki itu dari intelijen. Pasti ketahuan siapa-siapa yang mendukung ISIS," kata dia.

    DEWI SUCI | SINGGIH SOARES | MUHAMMAD MUHYIDDIN | PRU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.