Pembunuhan Angeline atas Perintah Ibu Angkatnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto bocah cantik, Angeline (8) dibawa oleh sejumlah aktivis perlindungan anak dari Forum Anak Daerah Denpasar saat melakukan doa bersama untuk arwah Angeline, di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. TEMPO/Johannes P. Christo

    Foto bocah cantik, Angeline (8) dibawa oleh sejumlah aktivis perlindungan anak dari Forum Anak Daerah Denpasar saat melakukan doa bersama untuk arwah Angeline, di depan kamar jenazah Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, 12 Juni 2015. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Denpasar - Dugaan persekongkolan keluarga dalam pembunuhan Angeline menguat. Agustinus Tai Hamdani, pembantu di rumah Margriet Christina Megawe, mengaku membunuh anak 8 tahun itu atas perintah majikannya.

    Kepada Akbar Faizal, anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat yang menemuinya di tahanan Kepolisian Resor Kota Denpasar Sabtu, 13 Juni 2015, Agustinus mengaku membunuh Angeline karena tergiur upah Rp 2 miliar dari Margriet, ibu angkat Angeline. “Uangnya akan diberikan pada 25 Mei,” kata Akbar, menirukan Agus.

    Alih-alih menerima upah, Agus malah dipecat oleh Margriet. Hari itu adalah hari kesembilan Angeline dinyatakan hilang oleh anak-anak Margriet, yang mengumumkan lewat Facebook “Find Angeline-Bali’s Missing Child”, dan dilaporkan ke polisi. Menurut Akbar, pengakuan Agus soal upah membunuh itu juga didengar para penyidik.

    Karena itu, setelah bertemu dengan Akbar, polisi memeriksa Agus hingga malam. Soal keterlibatan Margriet juga dikonfirmasi pengacara Agus, Haposan Sihombing. Menurut dia, kliennya mulai terbuka soal kronologi pembunuhan. “Dari banyak jawaban, yang konsisten adalah Margriet ada di rumah ketika pembunuhan,” katanya.

    Agus membunuh Angeline pada 16 Mei, hari ketika keluarga angkatnya mengumumkan ia hilang. Setelah pencarian yang menghebohkan, polisi menemukan jasad Angeline terkubur di halaman dekat kamarnya, di rumah Margriet, terbungkus selimut, memeluk boneka, dengan leher terjerat tali gorden.

    Pengusutan polisi mengarah ke Margriet, terutama setelah ditemukan bercak darah Angeline di kamarnya. Selimut yang dipakai membungkus jasad anak kelas II SD Negeri 12 Sanur itu juga diduga dari kamar Margriet.

    Kepada Haposan, Agus mengaku, setelah membunuh itu, Margriet memintanya pura-pura mencari Angeline ke tetangga. “Sedangkan Margriet hanya di rumah saja,” kata Haposan. Dia yakin, jika polisi bersabar mengorek cerita dari Agus, fakta tragedi ini terungkap.

    Setelah tuduhan kian mengarah kepadanya, lewat laman “Find Angeline” Margriet sempat menulis penyangkalan. “Jangan menuduh saya dalam kasus kematian Angeline,” demikian tertulis di sana. Pesan itu kemudian menghilang beberapa jam setelah tayang.

    Adapun Bernadin, pengacara yang Jumat lalu ditunjuk Margriet untuk mewakilinya, memutuskan mengundurkan diri setelah bertemu dengan perempuan 60 tahun itu kemarin siang. Ia menolak menjelaskan alasannya. Bernadin hanya mengatakan, “Ini menyangkut prinsip saya sebagai pengacara.”

    SYAILENDRA PERSADA | AVIT HIDAYAT | AGOENG WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.