Tragedi Lagi di Mina: Ya Allah!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jutaan umat Muslim di dunia memenuhi Padang Arafah saat melakukan Wukuf dalam bagian dari ibadah Haji di luar kota suci Mekkah, 23 September 2015. Dalam melakukan Wukuf, para jamaah berdiam di padang Arafah untuk berdoa. REUTERS

    Jutaan umat Muslim di dunia memenuhi Padang Arafah saat melakukan Wukuf dalam bagian dari ibadah Haji di luar kota suci Mekkah, 23 September 2015. Dalam melakukan Wukuf, para jamaah berdiam di padang Arafah untuk berdoa. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Musibah kembali terjadi di Mina, Arab Saudi, saat ribuan anggota jemaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah Aqabah, kemarin pagi. Ribuan orang berdesak-desakan hingga sebagian jatuh terinjak saat mendekati pintu masuk Jembatan Jamarat, lokasi untuk melempar jumrah, tepatnya di Jalan 204. Hingga tadi malam, musibah ini setidaknya menyebabkan 717 orang meninggal dan 805 mengalami luka-luka. Tiga korban meninggal adalah anggota jemaah asal Indonesia.

    Ini merupakan insiden serupa yang ketujuh di Mina dalam 25 tahun, namun yang terburuk dalam satu dekade. Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) melaporkan, insiden terjadi pada pukul 7 pagi saat jemaah sedang berbondong-bondong menuju Jamarat. Menurut SPA, “gangguan” terjadi di seberang Jalan Nomor 204 di dekat persimpangan dengan Jalan Nomor 223 Mina, yang menyebabkan warga berdesak-desakan dan terinjak. Sebagian besar korban adalah jemaah dari Yaman, Mesir, dan sejumlah negara Afrika.

    Menurut Tim Konsulat Jenderal RI di Jeddah dan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Riyadh, Sunarko, musibah itu bermula saat sekelompok orang tiba-tiba berhenti sehingga terjadi penumpukan, desak-desakan, dan saling dorong. “Saat desak-desakan terjadi, suasananya memang panas, mencapai 43 derajat Celsius. Ada kemungkinan jemaah kelelahan karena kekurangan air sehingga banyak yang jatuh dan terinjak-injak,” kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang juga berhaji.

    Pemerintah Iran menuding Arab Saudi melakukan kesalahan dalam menetapkan standar keselamatan sehingga ratusan anggota jemaah haji meninggal, termasuk sedikitnya 15 orang dari Iran. Kepala Organisasi Haji Iran, Said Ohadi, mengatakan, untuk “alasan yang tidak jelas”, jalan telah tertutup dekat tempat lontar jumrah di lokasi kecelakaan terjadi. “Hal tersebut menyebabkan insiden tragis ini,” katanya di televisi negara Iran, seperti yang dilansir abc.net.au.

    Setelah musibah itu, seperti dilaporkan wartawan Reuters yang berada di bagian lain Mina, sirene polisi dan ambulans terdengar meraung-raung dan jalan menuju ke lokasi bencana sudah diblokade. Lebih dari 220 ambulans dan 4.000 petugas penyelamat dikirim ke lokasi untuk membantu korban. “Pekerjaan sedang dilakukan untuk memisahkan kelompok besar orang dan jemaah untuk diarahkan ke rute alternatif,” kata Departemen Pertahanan Sipil Arab Saudi melalui akun Twitter-nya.

    Lebih dari 100 ribu polisi juga dikerahkan untuk memungkinkan kelompok-kelompok bisa dipecah sebelum mencapai tingkat kepadatan yang berbahaya di kawasan ini. “Silakan jemaah tidak mendorong satu sama lain. Silakan pergi dari pintu keluar dan jangan kembali melalui rute yang sama,” kata seorang petugas melalui pengeras suara.

    Musibah di Mina ini merupakan insiden kedua dalam musim haji 2015. Pada 11 September lalu, sekitar pukul 17.23 waktu setempat, crane raksasa berwarna merah-putih milik Saudi Binladin Group ambruk di dekat Pintu Gerbang As-Salaam, menewaskan 111 dan melukai 331 anggota jemaah dari berbagai negara—10 di antara korban meninggal berasal dari Indonesia.

    SPA | ALARABIYA.NET | REUTERS | ARKHELAUS WISNU | AHMAD FIKRI | MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.