Malaysia dan Singapura Kesulitan Padamkan Api

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemadam kebakaran dan suku Kamayura berusaha memadamkan api kebakaran hutan saat pelatihan  di taman nasional Xingu, Mato Grosso, Brasil, 3 Oktober 2015. Pemadam kebakaran Brasil memberikan edukasi pada masyarakat adat untuk mencegah kebakaran hutan Amazon. REUTERS/Paulo Whitaker

    Pemadam kebakaran dan suku Kamayura berusaha memadamkan api kebakaran hutan saat pelatihan di taman nasional Xingu, Mato Grosso, Brasil, 3 Oktober 2015. Pemadam kebakaran Brasil memberikan edukasi pada masyarakat adat untuk mencegah kebakaran hutan Amazon. REUTERS/Paulo Whitaker

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Singapura dan Malaysia kesulitan memadamkan api yang membakar hutan serta lahan di Sumatera dan Kalimantan.

    Kepada pemerintah Indonesia, mereka meminta tak sporadis mengebom api dengan air melalui pesawat karena titik kebakaran terlalu banyak. “Mereka minta koordinatnya ditentukan agar efektif memadamkan,” kata Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nurgoho, Senin 12 Oktober 2015.

    Menurut Sutopo, ada tiga penyebab tim dua negara jiran itu kesulitan memadamkan api di hari pertama: kebakaran di lahan gambut, area yang terbakar terlalu luas, dan titik api terlalu banyak. Malaysia membantu memadamkan api dengan mengirimkan pesawat bombardir yang tiba sejak Jumat pekan lalu. Adapun Singapura mengirim helikopter Chinook yang tiba sehari kemudian.

    Lokasi yang dipadamkan tim Malaysia-Singapura adalah wilayah Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Ahad lalu. “Ini merupakan kawasan yang terbakar sangat luas, masih pekat, dan mengirim asap sampai ke wilayah Jambi dan Riau,” ujar Sutopo.

    Selain kedua negara itu, pesawat yang dikirim pemerintah Australia akan tiba besok dan dipusatkan di Palembang, Sumatera Selatan. Bantuan asing ini, kata Sutopo, berada di bawah kendali BNPB, sementara kendali operasional berada di bawah Komandan Lapangan Udara Palembang. “Bantuan internasional semuanya akan dipusatkan di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin,” tuturnya.

    Hingga saat ini, ada 11 pesawat pengebom air untuk memadamkan api. Menurut Sutopo, semuanya kewalahan memadamkan api karena wilayah yang dibom tertutup asap pekat.

    Data BNPB menunjukkan luas total hutan dan lahan yang terbakar mencapai 1,7 juta hektare. Wilayah kebakaran terbanyak berada di Sumatera Selatan, yakni 221.704 hektare. “Angka ini akan bertambah terus karena kebakaran masih berlangsung,” tutur Sutopo.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui skala ‎kebakaran hutan tahun ini lebih besar dibanding pada 2014 sehingga membutuhkan kerja sama dengan negara ASEAN. “Ada pasal dalam kesepakatan di negara ASEAN, jika terjadi bencana, semua negara akan bekerja sama mengatasinya,” kata Kalla di kantornya.

    Bantuan itu sudah ditawarkan Malaysia dan Singapura sejak bulan lalu, karena mereka paling banyak terpapar asap kebakaran. Jepang, Cina, dan Australia menyusul menawarkan bantuan setelah sembilan orang di Sumatera dinyatakan tewas karena menghirup asap.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Christiawan Nasir, menyatakan Jepang akan mengirim cairan kimia, yang akan tiba besok, untuk memadamkan api. Menurut Arrmanatha, sejauh ini bantuan negara lain masih berfokus memadamkan api, belum menawarkan bantuan penanganan korban asap.

    ANANDA TERESIA | FAIZ NASHRILLAH‎ | DEWI SUCI RAHAYU | ISTIQOMATUL HAYATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.