Saksi Kunci Kasus e-KTP, Johannes Marliem Pernah Dirampok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Johannes Marliem. Facebook/Johannnes Marliem

    Johannes Marliem. Facebook/Johannnes Marliem

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Luar Negeri RI memastikan pria yang tewas di North Edinburgh Avenue, Los Angeles, Amerika Serikat, adalah Johannes Marliem. “Otoritas keamanan setempat masih menginvestigasi perihal penyebab dan insiden sebelum kematian tersebut,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, kepada Tempo. Baca: Bagaimana Johannes Marliem Mengontak Tempo dan Apa Percakapannya?

    Johannes Marliem dilaporkan tewas sekitar pukul 2 dinihari, Kamis lalu. Penyebab kematian salah seorang saksi kunci megakorupsi e-KTP ini masih simpang-siur: bunuh diri ataukah tertembak tim kepolisian yang mengepung rumahnya sejak Rabu sore pekan lalu. Sejumlah pemberitaan media lokal di Los Angeles menyebutkan polisi memblokade jalanan sekitar rumah Marliem, di North Edinburgh Avenue Nomor 623, setelah menerima laporan tentang adanya seorang pria bersenjata yang diduga menyandera keluarganya.

    Secuil informasi penting dilaporkan LA Times, Kamis lalu. Disebutkan, sehari sebelum kejadian, agen federal menerima surat perintah penggeledahan di alamat yang sama. Zigmund Gron, seorang tetangga Marliem, juga mengungkapkan rumah tersebut sempat dibobol perampok sepekan sebelumnya. Baca juga: Johannes Marliem, Pemilik 500 GB Rekaman Korupsi E-KTP

    Johannes Marliem, yang sejak akhir April rutin menghubungi Tempo, juga menginformasikan perampokan itu, Jumat dua pekan lalu. Kejadian tersebut, kata Marliem, terjadi pada siang hari oleh pelaku yang membawa senjata. “Selama 14 tahun saya di Amerika Serikat, belum pernah saya dirampok,” kata Marliem. “Hidup saya mulai terancam.”

    Ketika itu Marliem menolak menjelaskan detail kejadian tersebut. “Nanti makin keruh, tunggu investigasi dulu,” ujarnya. Keruh yang dimaksudkan berkaitan dengan penyidikan megakorupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebagai penyedia alat perekaman biometrik automated fingerprint identification system (AFIS) merek L-1 yang dipakai pada e-KTP, Marliem terlibat sejak awal proyek senilai Rp 5,84 triliun ini dibahas pada 2010.

    Juli lalu, kepada Tempo, Johannes Marliem mengungkapkan dirinya merekam seluruh pembicaraan selama empat tahun bersama sejumlah pihak yang terlibat dalam proyek ini. Kapasitas data puluhan jam rekaman suara itu mencapai 500 gigabita, yang menurut dia dapat dipakai KPK untuk menjerat para pelaku korupsi dengan kerugian negara Rp 2,3 triliun ini. Marliem pun telah dua kali dimintai keterangan oleh penyidik, yakni pada Februari di Singapura dan bulan lalu di Amerika Serikat.

    Juru bicara KPK, Febri Diansyah, enggan berkomentar tentang kematian Marliem dan informasi perampokan yang dialaminya dua pekan lalu. “Sebaiknya tunggu dari otoritas setempat, agar peristiwanya lebih jelas,” kata Febri, kemarin. Wakil Ketua KPK Saut Situmorang akhir pekan lalu mengungkapkan lembaganya sedang bekerja sama dengan otoritas keamanan di Amerika Serikat untuk mengetahui detail peristiwa sebelum dan sesudah kejadian Rabu hingga Kamis dinihari lalu.

    Peneliti Divisi Hukum Indonesia Corruption Watch, Aradila Caesar, mengendus ada kejanggalan pada kematian Johannes Marliem yang berbarengan dengan penyidikan kasus e-KTP. “KPK tak boleh berdiam diri terhadap insiden ini,” kata dia. Artikel lainnya: Kematian Johannes Marliem Menambah Daftar Saksi E-KTP

    HUSSEIN ABRI | GHOIDA RAHMAH | INDRI MAULIDAR | ISTMAN MP | AGOENG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.