Alasan Djarot Urung Menindak Pelanggar Tertib Trotoar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana apel pencanangan Bulan Tertib Trotoar yang dihadiri oleh pasukan gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan TNI di Balai Kota DKI Jakarta, 1 Agustus 2017. TEMPO/Yovita Amalia

    Suasana apel pencanangan Bulan Tertib Trotoar yang dihadiri oleh pasukan gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan TNI di Balai Kota DKI Jakarta, 1 Agustus 2017. TEMPO/Yovita Amalia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah DKI memperpanjang masa berlaku bulan tertib trotoar. Semula, program yang menyasar setidaknya 155 titik trotoar di seluruh Jakarta itu digelar sepanjang Agustus. Namun, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengeluarkan keputusan baru. "Bulan tertib trotoar kami perpanjang sampai mereka sadar betul harus tertib karena masih banyak yang belum sadar," ujar Djarot di Balai Kota Jakarta.

    Menurut Djarot, masih banyak warga yang belum menyadari pelanggaran di atas trotoar. Ini karena mereka menganggap sudah biasa melakukan pelanggaran tersebut. Dia mencontohkan, masih ada masyarakat yang memarkir sepeda motor di trotoar. Jumlah pelanggaran ini tercatat yang terbesar sepanjang dua pekan pertama pelaksanaan Bulan Tertib Trotoar.

    Baca juga: Bulan Patuh Trotoar, 240 Kendaraan Diderek dan Ditilang

    Ada 1.958 pelanggaran berupa parkir di atas trotoar sepanjang periode itu. Bandingkan dengan 1.668 pelanggaran lainnya, termasuk keberadaan pedagang kaki lima. “Hal tersebut sama saja tidak menghormati pejalan kaki,” kata Djarot. Bagi pelanggar aturan trotoar, diancam dicabut Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

    Menurut Djarot, dari evaluasi yang dilakukan, terungkap bahwa ada banyak pertimbangan untuk memperpanjang masa berlaku Bulan Tertib Trotoar. Selain masih banyak digunakan untuk parkir kendaraan bermotor, trotoar masih harus tetap dijaga karena mempertimbangkan momen hari raya Idul Adha. Djarot menuturkan, masih ada penjual hewan kurban yang bandel menggelar lapak berupa kandang di atas trotoar.

    "Trotoar itu untuk pejalan kaki, bukan untuk jualan kambing,” dia menegaskan. Dia melarang lapak-lapak itu berada di atas trotoar. Pedagang, kata dia, bisa bergabung dengan pedagang lain kalau memang tidak memiliki ruang berjualan. “Karena itu, Bulan Tertib Trotoar kami perpanjang sampai mereka sadar betul harus tertib," Djarot menambahkan.

    Djarot menambahkan, perpanjangan dilakukan beriringan dengan rencana pemerintah memperlebar trotoar. Sempat pasang target pelebaran 1.300 kilometer trotoar, pemerintah Jakarta kini berfokus ke pelebaran trotoar yang ada di jalan-jalan protokol dan arteri.

    Djarot belum memastikan hingga kapan perpanjangan masa berlaku Bulan Tertib Trotoar akan dilakukan. "Nanti kami lihat lagi, kalau sampai September mereka sudah sadar bahwa fungsi trotoar memang digunakan untuk pejalan kaki, ya kami akan cabut saat itu juga," ujar Djarot.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.